Selasa, 24 Agustus 2010
-beri AKU waktu-
''Ra.. kapan ini akan tuntas..?''
''Entahlah Sam, aku masih buta dengan semua ini''
Rara masih berteka teki, baginya kemuakan akan keadaan yang stagnan, membuatnya merasa menjadi orang tertolol di dunia.
''Sungguh Sam, akupun bosan..
hatiku lebih rapuh dari hatimu''
''Rapuh kau bilang Ra?
dimana logikamu, bukankah ini yang kau mau?
aku memang mencintaimu, tapi aku bukan Karto, atau bekas bekas pacarmu dulu.
Aku suamimu, aku imammu''
Emosi Sambodo memuncak, dia merasa tak berada pada posisi yang semestinya.
Sedang Rara terdiam, sesekali menyeka air matanya.
''Sam, aku wanita, munafik dirimu.
Aku harus berdiri diantara orang yang melahirkanku dan kamu imamku,
pernahkah kau coba jadi aku?''
Sambodo terdiam, di hela nafasnya, detak jantungnya yang berpacu perlahan mencair.
lalu tubuh kekar itu memeluk istrinya dengan penuh cinta.
''aku mencintaimu sayang, tapi aku lelah menghadapi bundamu yang tak pernah anggap aku ada..
aku mencintaimu kemarin, hari ini, esok, dan selamanya..
Janjiku akan kurubah semua ini..
demi kita, demi bundamu..
beri aku waktu...''
Minggu, 22 Agustus 2010
sajakmu metafora, menyulut amarah pelangi di puncak senja.
'Mariana'...
mungkin kau lupa, kaulah yang memberi nyawa.
kesini kau, biar kujejali kepalamu dengan setumpuk angka,
barangkali kau akan sadar dari amnesia.
'Mariana'...
sepertinya kau mulai malu, sedari tadi disampingku hanya seperti orang gagu.
apa mungkin mulutmu telah tersumpal sumpah setiamu?
'Mariana'...
apa yang kau cari, kuharap kau mau berbagi.
disini kedzoliman sudah jadi kebiasaan, sudilah kiranya kau berbagi sedikit solusi, atau mungkin buat sekedar pengukuhan eksistensi.
'Mariana'...
syairmu ironi, sepertinya cocok jadi skenario film tragedi,
dan aku harap dapat mengalahkan rating Ariel, Luna Maya dan Cut Tari.
'Mariana'...
tanpa sadar, kini kau telah dewasa, kudengar kau sudah bisa main gila.
dia pria beranak istri kau sikat pula, tapi celaka, lelakimu pawangnya main gila, mungkin suatu hari kau akan di perkenalkan dengan gadis bernama Syaira.
'Mariana'...
pejamkan saja kantukmu, esok masih panjang buat kita beradu pemikiran.
oh iya, doaku buat mimpimu, semoga ketika bangun nanti masih punya nafsu.
'Mariana'...
luar biasa, amarah memuncak melihat gelagatmu yang tak punya lagi rasa malu.
seandainya hukum tak berlaku, sudah kucongkel biji matamu, kujadikan menu makan malamku.
'Mariana'...
seksimu menggoda, makin malam makin mirip Mulan Jameela. ayolah kita kawin siri saja, kan kubawa viagra buat mas kawinnya.
'Mariana'...
hari ini kau laksana halilintar, tapi tak cukup pintar.
dan 'skak matt' kau mati di langkah pertama, oleh cecunguk yang kau anggap tak berdaya, kau tak tahu, berdiri jenderal di belakangnya.
Mariana.. Mariana..
kau tak pernah belajar dari pengalaman, kini kau tinggal menanti ajal yang sebentar lagi datang.
rehatlah sayang, kan kutunggu desahmu, penutup episode kematianmu...
Jakarta, 23082010
musim Terakhir di Derai hujan
Rembulan masih malu malu di balik sekumpulan awan tipis. Sinarnya membiaskan siluet jingga membentuk pelangi cincin yang samar namun cukup indah. Ini malam aku mencumbui aroma kembang jagung yang semerbak di musin pancaroba. Mungkin esok aku harus kembali bergelut dengan waktu mengejar mimpi mimpi yang terbengkalai.
“mau kopi”... singkat dan cukup mengubah romantismeku dengan malam. Hmmm….ternyata masih ada yang terjaga selain aku disini.
“belum tidur ya….?” Aku sengaja mengalihkan tema obrolan tentang kopi, aku ‘membenci’ kopi. Bagiku dia tak cukup enak buat perutku yang sedikit sensitif dengan caffein.
“entahlah, aku ga tahu kenapa malam ini sepertinya enggan buat tidur, aku ingin mengenang malam ini untuk sekian ribu malam yang akan datang”
“kamu sendiri….?”
Diva mendekat padaku, lalu duduk disebelah kiriku, sambil menggenggam secangkir kopi yang asapnya masih mengebul dengan jelas, terlihat hitam pekat. Aku seperti mengulang masa lalu, ketika ada seorang gadis yang duduk di sampingku.
“aku ingin lebih lama menikmati kesunyian malam ini, mungkin esok aku tak menemukan ‘sakralnya’ malam seperti malam ini”
Sejenak kami terdiam, kulihat Diva memandang jauh kearah temaram rembulan. Kejernihan wajahnya terlihat begitu jelas meski tak ada sinar yang menyentuh sudut sudut wajahnya. Kubiarkan Diva menikmati keagungan malam ini, dia mungkin juga lupa, kopi pahit kental di tangannya perlahan mulai beku oleh hembus angin malam.
“mengapa ada pelangi…?”
“apa…?” Aku seperti tergugah oleh pertanyaan Diva. Aku terlalu menikmati keanggunan matanya, yang tetap tajam menantang tingginya waktu.
“mengapa ada pelangi di lingkar bulan…?”
Aku mencoba menyadarkan diri, mencari cari jawaban dari ringan pertanyaannya.
“bukankah itu hal yang biasa terjadi, dimana ada sinar, ada air, bisa di biaskan menjadi pelangi” …. sebuah teori alam pikirku.
“kali ini lain, aku menangkap sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh bulan malam ini”
Entah apa maksud dari kata katanya, aku seperti harus membuka kumpulan rumus kimia yang cukup bisa meledakkan isi kepala.
“bulan malam ini terlihat lain, aku dapat membaca redup sinarnya, tak seperti malam malam yang lalu”
Oh My God… dia seperti menyindirku.
Dia seperti tahu aku sedang memendam perasaan yang teramat besar, yang aku sendiri tak tahu sampai kapan mampu menahan luapannya.
“apa yang kau baca disana Va…?”
“aku terlalu bodah untuk membaca isyarat alam”
kini aku mencoba membalikkan kendali kata kata….
“seperti sebentuk hati, yang menahan rasa, tapi entah mengapa tak pernah sampai pada yang dituju”
Diva menatapku, entah sejak kapan, ingin kubuang muka ini, aku takut dia tahu apa yang tersimpan di mataku. Tapi entah apa, seperti ada yang mengikat kepala ini hingga aku tak mampu memalingkan pandangku sejenak saja dari tatap sejuknya.
Tuhan, jangan biarkan dia membaca kerinduanku padanya, aku tak ingin menjadikannya luka…
“kenapa diam…?”
Diva memudarkan anganku tentang rindu.
“entahlah, aku seperti pernah mendapat pertanyaan ini, mungkin dikehidupanku yang sebelumnya…..
ini seperti dejavu, mimpi tapi nyata…
kamu bukan seorang cenayang kan..?”
Dia tersenyum, sepertinya dia memenangkan permainan kata kata ini.
“kau anggap aku cenayang…?
sungguh aku tidak sedang membaca hatimu, aku sedang menikmati bulan saja….
apa ini seperti perasaanmu…?”
Ini pukulan telak, sepertinya aku benar benar kalah olehnya kali ini…
“hmmm…
aku tak pernah berdamai dengan hatiku, aku selalu mencoba melawan bisikannya…
terlalu banyak logika yang mengacak acak perasaan ini”
Diva kembali tersenyum kecil mendengar jawabanku.
Di seruputnya sisa kopi dingin di tangannya, seperti ada hujan di padang sahara, matanya yang tak jua sayu oleh malam, menyimpan sejuta rahasia, dan aku tak pernah mampu mengungkapnya.
Malam semakin jauh membawa kami dalam obrolan tentang pelangi, tentang bulan, lalu tentang hati. Angin yang berhembuspun semakin kencang. Perlahan aku merasakan dingin. Tak begitu dengan Diva, tak sedikitpun terlihat darinya terganggu oleh embun yang di bawa hembus angin, meski kulihat rambutnya yang hitam panjang mulai basah oleh titik titik embun.
Kali ini aku menunggu dia mengakhiri, pegulatan dengan malam. Namun, tetap saja dia tak pernah kalah olehku….
“kamu bosan…?”
Pertanyaan apa lagi ini, selalu saja ada seribu cabang dari pertanyaan pertanyaannya. Aku harus mencari jawaban yang multi tafsir.
“aku belum menemukan arti bosan sampai saat ini…
jikapun aku bosan tak mungkin sejauh ini aku bertahan”
Aku berharap kini ia yang akan masuk dalam permainan kataku.
“sejauh ini…?
lalu kenapa juga kamu tak pernah jujur dengan dirimu sendiri sejauh ini…?”
Yes…!!! Diva tak menyadari, kini aku yang akan pegang kendali.
kuraih tangannya….
“aku berbicara tentang malam ini, tentang pelangi, tentang bulan, dan aku belum bosan menikmatinya”
Kini aku tersenyum memandangi wajahnya yang tiba tiba berubah merah jambu, aku benar benar mengalahkannya kali ini.
Diva hanya terdiam, sesekali menyembunyikan rasa malunya dengan memalingkan tatapan matanya dari pandangku.
Sedang tanpa kami sadari tangan kami makin erat saling menggenggam.
Aku sepertinya telah sedikit berdamai dengan hatiku, aku memberi ruang pada seka seka hati untuk merasakan detak nadi ditangan Diva. Tak beraturan, mirip detakan nadi seorang pencuri yang habis di uber uber orang sekampung.
“Diva….
apa yang kau mau saat ini…?
semoga pertanyaan ini tak melenceng dari sasaran yang ingin aku tuju.
“aku mau malam ini tak berakhir…
aku mau saat saat seperti terulang lagi di malam malam selanjutnya”
……. “tentang aku atau tentang bulan dan pelangi…?”
“tentang semuanya, bahkan sisa kopiku ini akan menjadi kenangan tersendiri nantinya…?”
……. ” aku mengenalmu Va, aku tahu tentang dirimu, aku tahu tentang hatimu, aku tahu tentang perasaanmu…
……. namun aku sendiri yang tak pernah tahu tentang diriku”
“akankah kau ijinkan aku untuk mencari tahu tentang dirimu…?
apakah kau mencintaiku…?”
Pertanyaan yang tak pernah kujawab malam itu, bahkan ketika derai hujan menghempas keakraban kami, kami masih saja saling menggenggam jemari kami. Karena Diva pun telah tahu apa yang tersimpan di hatiku, jauh sebelum aku sendiri mengetahuinya, bahwa cinta ini memang untuknya…..
Jakarta, 22082010
Kamis, 12 Agustus 2010
~~tentang Ratna~~
Kutulis Ratna dari kekosongan
kutulis Ratna dari ketiadaan. Ketika ada,
tak juga menera angan kesendirian, mimpi kesunyian.
Hasrat mengabadikan Ratna dalam ingatan
Aku ingin membaca Ratna, seperti membaca diri. Sekali lagi.
Membaca kembali waktu, pulang kepada rindu.
Ketika Ratna masih terlelap di dalam lipatan kenangan
di dalam bingkai kerinduan, perih sunyi sekerat wajah rembulan.
Ratna seperti menangis di dalam nyeri waktu, tapi
Ratna mungkin saja tersenyum dalam diriku
Dan jingga langit serasa hendak mengeja Ratna
membaca puisi dalam kilau matanya.
Tapi di mana Ratna? Demikian suara senyap itu memanggil.
Menghitung jarak, membilang jumlah jejak.
Di mana tak ada lagi kelepak sayap
yang akan merubah detak sang waktu menjadi hening.
Wajah siapa ingin berpaling dan lebur di dalam kesunyian.
Bersama Ratna. Satu-satunya Ratna yang aku kenal.
2. Ratna Di Dalam Sunyi Kata-kata
Telah bertahun kutulis Ratna
seolah ia telah mati dan kuhidupkan kembali dalam puisi.
Kuberi ia bunyi untuk meneriakkan kebekuanku
Kuberi ia sayap untuk menerbangkan kepiluanku
namun masih menggumpal segala hasrat,
tumpat-padat segala penat di dalam benakku
tak kunjung mampu terjemahkan Ratna dalam sajakku
tak mampu jelmakan Ratna dalam hidupku.
Masih terus kuhirup nyeri dari setiap penggalan kata-kata
di mana tubuh Ratna terbungkus rapat di dalamnya.
Masih terus kusesap perih dari setiap lapis makna
di mana jiwa Ratna hadir dan tinggal
sebagai tawanan dalam rumahnya.
Serupa teka-teki
bertahun aku menyiksa diri sendiri:
memaksa diri mengurai titik-titik darah
dan mempergunakannya sebagai dawat
untuk melukiskan seribu luka
dan seribu kesedihan
di hati Ratna.
3. Ratna Di Beku Waktu
Satu ketika kulihat Ratna, duduk membatu di butir debu.
Tapi siapa tak melihat Ratna ketika itu?
Meskipun tak ada nama-nama untuk mengingat peristiwa
tak ada tanda-tanda awan di langit
atau pun beku di dinding-dinding waktu.
Semua lengang saja menera satu-satunya pilu
wajah sayu milik Ratna.
Ia seperti sesosok bayang-bayang
yang terbang dalam kesendirian
berusaha membunyikan kesunyian dalam dirinya.
Ia seperti ingatan yang terpenggal
hasrat yang tertinggal dari kepingan masa lalu.
Saat ia terbang bersama butiran debu itu
ia seperti tiada mengenal duka
matanya membayang kosong saja.
Barangkali ia cuma segumpal mimpi atau separuh ilusi
yang lupa menafsir, yang sepikan takdir:
bahwa hidup tak lain hanyalah sebuah misteri.
4. Ratna Di Debur Ombak
Adakah Ratna mengingat bintang tatkala ia menyaksi malam?
Siapa di sana memanggil namanya?
Masih ia hampiri laut untuk mengingat suara deburan ombak
dan ia susun istana harapan dari butir-butir pasir waktu.
Sayang, angin begitu cepat membuatnya berlalu
sebelum buih-buih itu sempat mencium bibir pantai.
Sekali, sempat kami dipertemukan di pantai itu.
Sekali saja, selepas itu ingatan terlupa menyimpan kenangan.
Tinggalkan segurat senyum di bibir Ratna.
Serupa hujan yang mengeras,
menjadi runcing jarum di detak waktu
kehilangan arah, melupa wajah Ratna.
Melupakan bayang-bayang keindahan di benak rembulan.
Tinggal sekerat kerinduan yang masih saja menyimpan
serpih perih sepotong duri.
5. Ratna Di Gurat Luka
Siapa yang lebih nyata daripada Ratna,
membaca lamunan dan impianku?
Bila saja ada yang lebih mengerti,
tak ada yang melampaui Ratna
menafsir kenyerian dan kepedihanku.
Tapi siapa yang lebih semu daripada Ratna?
Siapa yang lebih bayang dari dirinya?
Menulis sejumput ingatan dan selarik kenangan
terkandas begitu saja di kelok jalan.
Tak ada yang lebih membingungkan
tak ada yang lebih mengherankan
sebagaimana Ratna meninggalkan segurat duka
di atas telapak tangan kesunyian.
Pergi bersama bayang tengah hari
tanpa sepatah kata ataupun sepenggal pesan
tanpa sempat lagi nyatakan perih luka-lukanya.
6. Ratna Di Butir Pasir
Tak terjawab kerinduan yang terlanjur pergi
bersama bayangan Ratna.
Meraut kepedihan, menajamkan kenyerian
goresan luka di dalam jiwa.
Gersang tanah ini masih tak kunjung henti bertanya
kemana perginya Ratna?
Walau telah kutulis berjuta nama Ratna
dan kusematkan di butir-butir debu
lalu kuterbangkan ke jalan-jalan.
Telah kutulis bermilyar nama Ratna
dan kumeteraikan di butir-butir pasir
lalu kulayarkan ke tujuh samudra.
Masih tak juga kudengar berita
di mana Ratna yang sesungguhnya?
Telah kutera seluruh jejak nyeri di batang pohon
di kelepak sayap burung, di debur ombak, di desau angin
bahkan di jingga langit hanya untuk mencari sekerlip tanda
adakah Ratna pernah hadir atau tinggal di sana.
Namun demikianlah,
segunung tanya masih juga tak menemu jawab.
7. Ratna Di Detak Jantung
Kudengar Ratna: mengalir bersama keheningan
Setiap desah seperti tak henti menyebut namanya
Gersik pasir, desau angin, ratap kerikil
tak putus-putus membunyikan Ratna.
Ratna berbisik dalam diriku
Ratna berdetak dalam jantungku.
Kudengar Ratna bergetar dalam denyar alir darahku.
Bahkan setiap kali kubuka jendela
Ratna menghambur bersama angin dan kesunyian.
Telah lama kuingin menggapai Ratna
Dalam jaga aku tiada berbicara selain tentang dirinya
Dalam tidur aku tiada bermimpi selain tentang dirinya
Dalam rentang waktu tak henti Ratna menghantui diriku.
Dalam hembus nafasku ada hembus yang mengeja nafas Ratna
Dalam resah pikirku ada gelisah pikiran yang menera bayangan Ratna.
Tapi mengapa hampa hatiku masih juga tak menemu Ratna?
Ia terasa begitu asing, begitu jauh dan tak terjangkau.
Sekalipun tak putus-putus hasrat untuk menjumpa Ratna
dan menjadi sebagian kecil saja dari dirinya
namun mengapa masih rawan jiwaku tertampar kekosongan?
: Sebelum Ratna menjelma di dalam diriku
sebelum Ratna menyatu di dalam kesunyianku.
8. Ratna Di Dalam Tak
Mengapa tak kujumpa Ratna
dalam dentang lonceng gereja
dalam takbir suara azan memanggil
dalam wangi dupa dan butir-butir doa
yang tak sanggup ucapkan kerinduanku?
Apakah Ratna terlanjur membatu
menjadi sesosok arca dalam diriku?
Apakah terlalu kupuja Ratna
melebihi kebenaran yang tiada aku kenal?
Lalu mengapa Ratna menghantui diriku serupa itu?
Serupa duri yang terlanjur menancap ke dalam benak
Serupa hasrat yang merasuk ke dalam pikiran.
Telah merah segala luka
tiapkali Ratna berbisik dalam kupingku
menawarkan cinta dan kerinduan.
Namun entah mengapa
aku masih juga berpura-pura
tiada mendengar
atau mengindahkan
segenap seruannya.
9. Ratna Di Bening Mata
Melampaui realitas sehari-hari
begitu sering Ratna muncul di televisi.
Dengan rambut pendeknya
dengan senyum manisnya.
Siapa tak terpikat kepada Ratna?
Tapi siapa pula yang tahu rahasia
di balik kilau bening matanya
yang menatap lurus menembus
dinding kaca itu?
Tak ada yang mengenal Ratna serupa diriku
seperti aku mengenal jejak-jejak luka
yang tergores di sekujur wajah rembulan.
Lebih dari sekedar rasa sakit dan kepiluan
Luka itu adalah semesta cinta di hati Ratna.
Cinta yang pernah ia sematkan dalam hatiku.
Walau berabad lewat nyeri membeku di tabung televisi
Menera wajah Ratna. Menanda manis senyumnya, kerlip matanya.
Dan selaksa perih yang tiada henti menitik dari dalam hatinya.
10. Ratna Di Dingin Angin
Masih sempat kulihat
kebahagiaan terpancar di mata Ratna.
Walau sekejap menyaksi kilau mentari
dan bening cahaya menari di lengkung pelangi
terurai di atas gerai rambutnya.
Tapi entah mengapa
kami tak lagi bercakap sesudah itu
membiarkan lengang merengkuh
lengan-lengan telanjang kami.
Jemari dingin seperti ingin
sampaikan hembusan angin
serpih buih, gemuruh ombak
dan teriakan burung-burung camar.
Adakah kerinduan telah menjadi begitu terbiasa
menyangkal kehadirannya?
bahwa jejak terlanjur menera keterasingan
dan membuat jarak kami semakin menjauh.
Seakan keterpencilan ini
mampat begitu saja di rongga dada
dan mengeras di beku karang.
Ada yang sempat tak terucap di kelu bibir
Senja terus merambat di dalam diam. Di dalam tikam.
Gelora ombak seperti tiada henti membaca kecamuk pikiran.
Angin yang gemetar menyentuh jemari resah. Terlanjur basah.
: Adakah lengang waktu menjawab kerinduanmu Ratna?
atau barangkali kita telah tertidur tanpa sempat terjaga dan
terlambat menyadari, diri telah jauh tenggelam ke dalam mimpi.
Tak lagi mampu menemu jalan untuk dapat pulang kembali.
11. Ratna Di Kelam Malam
Siapa menyapa diriku di pijar lampu?
sedang lama tak kubalas sapa cahaya.
Telah lama aku terlanjur terpana oleh kegelapan
satu-satunya gelap yang aku cintai.
Ia bernama Ratna,
dengan rambut ikal yang kelam
dengan kulit lembut yang legam
tapi tak ada wajah yang semanis Ratna
tak ada yang sehalus elus telapak tangannya.
Walau masih ada dingin gurat tipis di bibir Ratna
tak ada menanda senyum atau kerinduan.
Tak ada gelap yang begitu aku cintai
yang sanggup memilin hasratku
yang mengharu-biru daging dalam diriku
Begitulah Ratna membalas segenap cintaku
dengan sejuta kelam malam dalam dirinya
namun masih juga ia simpan sekeping duri:
Bayang kesendirian yang perlahan
mengabur di pijar lampu.
12. Ratna Di Lipat Buku
Siapa gemar membaca
pastilah pernah membaca Ratna
Siapa suka menulis
pastilah pernah menulis Ratna,
karena Ratna hidup dan tinggal di lipat buku
Sebagai kenangan, sebagai tanda
untuk mengekalkan waktu dan angan-angan.
Saat kukaji makna ia sembunyi di dalam kata
ketika kukaji lagu ia sembunyi di dalam nada.
Serupa kerlip rembulan di balik awan.
Demikianlah Ratna hidup dalam benakku, sebagai pikiran.
Berdetak dalam jantungku sebagai harapan.
Berdenyut dalam nadiku sebagai kerinduan.
Semesta cinta yang tiada habis kugali dari tetesan hujan
di mata Ratna. Dan satu kali nanti mungkin
aku dapat menyebutnya sebagai sebuah kebenaran.
13. Ratna Di Serpih Mimpi
Setelah usai waktu membuai diriku
aku tak sempat lagi terjaga. Menemu Ratna.
Tenggelam ke dalam mimpi.
Ratna seperti lautan ombak
yang mengggulung diriku dengan kebimbangan
seperti deru angin yang tiada henti
membalut diriku dengan kecemasan
Lupa waktu menambat angan
labuhkan perih duri dan kelopak-
kelopak mawar di rambut Ratna.
Kami telah menjelma jadi sepasang kupu-kupu
dengan sayap-sayap keemasan.
Kami telah menjadi sepasang kekasih
yang menulis perih di kening mimpi.
Membunyikan embun, membunyikan hujan
menjadi sebuah alunan simphoni
yang membawa leka waktu
menjadi sebuah perhentian:
Betapa belenggu mimpi tak akan pernah lagi
membuat kami terjaga.
14. Ratna Di Dalam Puisi
Ketika kubuka pintu kutemu Ratna dalam puisi
menjelma cinta dalam keseharian
seperti udara yang aku hirup
seperti nasi yang aku makan
semuanya ada di dalam Ratna.
Kubuka jendela dan kujumpa Ratna
menghambur bersama cahaya
serupa mentari tebarkan kehangatan
serupa rembulan pancarkan kedamaian.
Ratna berlagu dalam diriku
Ratna bernyanyi dalam hatiku
Selepas senja lindap menghampiri fajar
dan mencium lembut bibirnya, hingga
berdua sama-sama tenggelam
dalam lautan asmara
yang tak putus-putus.
15. Ratna Di Pijar Doa
Seberapa bening kilau embun menjelang fajar?
masih tak mampu tandingi bening di hati Ratna
Seberapa cerlang mentari tengah hari?
masih tak mampu menentang cerlang di mata Ratna
Bukankah Ratna telah hamparkan kerinduan
yang merangkum segenap angan
yang merengkuh pertalian mimpi. Satu dalam diriku.
Membunyikan genderang cinta hanya kepada Ratna.
Sebab Ratna lampaui semua khayalan.
Getar musik dan keindahan
larik-larik puisi yang layangkan haru dan kesedihan
Segenap rasa yang bergugus makna
Pijar-pijar doa yang labuhkan perih
Pertautan rindu dan dendam.
Karena tiada kukenal nama selain Ratna
Sekiranya ia manusia
Sekiranya ia tuhan
Sekiranya ia bukan siapa-siapa
kepada siapa harus aku kobarkan
api dalam jiwa ini
kepada siapa harus aku langitkan
doa dari perih ini
pinta dari serpih ini
puja dari luka ini
hanya untuk menera
satu-satunya cinta
dalam jiwaku?
Jakarta, 12 Agustus 2010 ............... 0919 pm
``asmaradhana``

Hendaknya asmara menghantar bunga. Semerbak menghantar rindu. Gemulai masuk balai paseban, bersama redup lentur damar haturkan persembahan ke hadapan Sri Rama. Sang Narapati. Terpekur di atas singasana. Antara ragu dan sendu rayu. Gerimis menitik, entah suka entah sedih, entah bahagia entah perih. Lalu waktu menulis luka rembulan, sepikan pinangan. “Ataukah belum tiba saatnya samudera layarkan damba keharibaanmu wahai Narotama?” Seharusnya kereta menghantar cerita. Bersama mabuk angin dan pasukan berkuda. Seratus punggawa. Bala tentara Wanara menyiapkan hantaran. Tunggal. Diri yang suci, tak lain cinta. Dalam diri Shinta seorang. Dialah nirmala, ratu dari segala kembang. Dialah narwastu, akar heharuman, wangi dari segala parfum. Putih tiada ternoda. Tapi, siapa hendak menera sangsi di batin Sang Prabu? Setelah rembulan menera jejak, setelah angin sentuh segala ingin di helai rambut Sang Dewi. Siapa masih sanggup menera resah di mata Sang Raja? Kiranya tarian rembulan sanggup hantarkan cinta ke hadapan Sri Rama. Tak perlu sangsi mengusik hati, tak hendak resah malam menghantar senyap. Api merepih dan kemudian membara, mengibas luka-luka perih, mengeras di jantung. Hangus. Menikam-nikam serupa sembilu. Lepas di mata, lepas di mulut, membakar hati membakar nyala cinta di dada. Membakar langit hingga merah saga, hingga langit menyala bersama hati yang berdarah. Oh Mestinya kata hantarkan diri. Telisik warna malam demikian muram. Nyeri yang tak terucap di bibir. Berdarah. Dalam kelopak-kelopak bunga angsoka ungu membiru. Gugur di tebing mimpi. Angan terbelah, kerinduan serupa ngarai, serupa jurang menganga. “Ah, mengapa cinta terakan luka sedemikian pedih?“ Jarum-jarum yang berdenting, pisau-pisau yang mendengus, dentang pedang. Menghunus luka dengan tajam kilaunya. Tak satu kuasa artikan tatap mata sebagai cinta. Satu-satunya cinta menitik di bibir yang pucat dan pilu. Masih juga sepi dari pinangan. Berpaling dengan wajah mengeras. Shinta, sang dewi. Berjalan perlahan, mengandung senyap. Dengan segenap cintanya menembus bara api.
Selasa, 27 Juli 2010
melukis air matamu, wahai 'Nil'
dengan warna cahaya
aku pandang pelupukmu
menarikan kuas jingga
menggapai bentuk-bentuk
pesona
dan kau lukiskan di tengah
padang musafirku
wajah cakrawala mengelilingi
cakrawala
yang pernah singgah dalam
mimpi perempuan buta
saling kita tawarkan sepanjang
perjalanan kafilah
Bila kuinginkan cakrawala
dalam diam gua
batu-batu berbicara
lebih nyaring dari seruling
pecinta
'Nil'...
Air matamu merinai
memapah lemah dan sakitmu
kini sampai ia di tepian hatiku
menangis
dan aku
bersama doa sekumpulan ababil
hanya untukmu
kekasih
..........................
teruntuk NINNETA[gadis seribu doa]
menyebar aroma kekhusukan
kau[ pemilik seribu doa
malaekat]
sayap sayap rapae
kali ini bukan tentang ungu
kamboja
...atau pelangi jingga seribu rona
tapi tentang [rona putih yang
membias pinta sempurna]
sang ninneta
..[gadis seribu doa mimpi itu]
mengemas cinta rahasia
pada jemari jemari madewa
terkirimlah seribu doa malaekat
...pada ninneta ..[pecinta rangkai
kata]
maka tersenyumlah
[rapak kepak sayap rapae]
terangkai ribuan doa rahasia
ya [untukmu..ninneta]
perjalanan hari
pada perak dan rona putih kutitipkan
serbuk serbuk jingga doa
maka mencahayalah jiwa
kobar kobar rindu
membias kata , pada pohon
akasia menua
saksi pinta
____________MF
dan hujanpun mengiring doamu_FARAHDIVA_
Mereka merasai
betapa sayu kedua netramu
biar...```biarlah, sayang
derasnya membasah rumbai rambutmu
_mengertilah rindu_
menyejuk doa doa
yang kita titipkan pada
Ranting Ranting cuaca
_____________MF
jika [ini] doa...maka tersenyumlah_FARAHDIVA_
aku yang meretas asa akan hadirnya rindu, hadirnya dirimu
_hanyut dalam lelahmu
gadis [penyimpul tali hati]
lalu diam dalam seribu doa doa
..FARAHDIVA..[netra dalam gulita]
dengarlah... sayang, aku merapal ayat ayat
. tentang khafilah khafilah di jaman Muhammad
tentang kekasih Tuhan bermata intan
_ku genggam kepul kepul sabda para Rasul
dengan jemari penuh dosa
. sucikah rinduku, sucikah jiwaku
_yang mencintaimu_
bangun dan melangkahlah _FARAHDIVA_
...hari ini akan ada perjamuan cinta,
dari para bidadari berpita jingga
. lihatlah... sayang, mereka berbaris di berandamu
_di tangan mereka, tergantung untai doa
...itu penawar sakit dan lelahmu...
`lihat di ujung sana, kekasih...
` gadis dengan lesung di pipinya yang merah
malu malu...itu peri kecilmu
yang kala senja datang
menjelma kupu kupu, menjagamu
` lihat itu, sayang lelaki bershirah perak
_betapa gagahnya ia_
kau ingat, dia itu malaikat penjagamu
yang ketika malam tiba
. menjelma sejuta kunang kunang, mencahaya gelapmu
` _FARAHDIVA_ [kunci kunci cinta]
kulihat air matamu, memasuh gersang kedua pipimu
kau meluka, terluka, namun dalam dekap doa
_dan akupun menangis, sayang...
mendengar sejuta doa terlantun dari pencintamu
`sungguh, jika [ini] doa...maka tersenyumlah, _FARAHDIVA_
kekasih hatiku```
______Madewa FulQentius
[masih tentang] serpih doa yang tak lelah menghitam malam
membuka percakapan dua 'malaikat'
tentang doa doa tentang harapan dan rindu
ya...lirih hembus itu
sampai di pelataran hati
_cinta_
"bukan sayang, bukan...
bukan kamu 'malaikat' itu
kamu sudah lelah kan...?
dan kini terbaring terpejam matamu"
_biar aku saja,
yang menghitamkan malam ini
kau dengar dan rasakan saja
sentuh sentuh doa yang menyapa
_itu penawarnya sayang....
_lalu buka jemarimu, sayang
biar terbang mengangkasa
seribu kupu kupu
membawa
.. harapanmu
membawa doamu
_membawa cintamu
kehadirat Pemilik jiwa
__dan terjagalah doa, terjagalah rindu
oleh dekap hangatku
aku yang mengunci keping keping malammu
menghitamkannya
menyandingmu _cinta_
.. FARAHDIVA ..
______________MF
doa untukmu kekasih [FARAHDIVA]...jika esok tak ku temui pagi
untukmu Tuhan...
ini tentang perempuan dengan sayap patah di punggung kirinya
meluka
rembinya menyemai doa di malamku
_merubah rindu
menjadi rebah sendu
...di ujung purnama di detakan yang tak lagi rancak
...menyayat setiap sajak yang terkias dalam harap lemahnya
Tuhan_ ijinkanlah waktu
mengabarkan padaku
perempuan dalam lelap lemah itu menceria reranting sunyi
..ijinkanlah detak detak jantungku
mengalirkan darah di hatinya
mengganti harap asa meminta
..._ijinkanlah angin merumbai rindu rindu ini
menjadikan pelita di gelap pandangnya
yang tanpa cahaya
_Tuhan...dia FARAHDIVA, pemilik rinduMu
lihatlah Tuhan...
senyum letihnya
bukankah itu lembaran lembaran ayatMu...?
``dengarlah tangisnya Tuhan...
bukankah itu dendangan firman firmanMu...?
...dia FARAHDIVA, Tuhan...
'malaikat' mimpi yang menyimpul hatiku
dia_FARAHDIVA, Tuhan...
gadis seribu doa yang menyimpan lara di dada kirinya
...dia FARAHDIVA, Tuhan...
pelebur cinta karenaMu...
_dan jika esok pagi tak kutemui kuasaMu...
ini permohonanku
_"kembalikan FARAHDIVA, senyumnya
cerianya, tawanya
rancakkanlah detak di dadanya
agar ia menguntai lagi
serakan serpihan ranting sepi
...karena dia FARAHDIVA, kekasih penyempurna imanku"_
_______Madewa FulQentius
the DREAMer of DREAMs... [you are my FARAHDIFA]
distant land,
You are Farahdiva,
Dreamer of dreams, to fill my
hearts desire,
Sweet music flowing from your
nimble hand
That plays within... to light my
passion's fire.
_A symphony of word and
thought you bring.
Excitement builds upon
crescendo's sound,
Brought forth in tones to make
my light heart sing [FARAHDIVA's song]
For all the beauty that, with
you, I've found.
A life is changed in just an
instant's time,
All darkness fled before that
brilliant sun
That shines from spoken words
of softest rhyme
And speaks of treasures, only
just begun.
This mystic meeting gives my
heart a glow
That few have seen and only
you will know.
Coz you are my FARAHDIVA...
_____________MF
NINNETA_merebahlah di doa malamku
_doa doamu di puncak teja
membias membentuk lengkung gemintang
cakra hati mensuci
tiap sujud di gerbang malam
[tentang rembi memutih pasi]
...ada sebentuk hati
kugambar gamang wajahmu [gadis perinai mimpi]
sekata asa,
aku jasat harap cita
menyisir selisir
lembab sembab
kedua retina
...Ninneta...
tak henti untai dendang kasih
memutar lingkar setapak labirin
detaknya berhenti di jantungku
merebah ninneta [di doa doa malamku]
cintanya semerah darah
mengisi kosong nadi
_mengaura tatap harap ujar ujar madewa_
seperti semusim lalu
ketika Tuhan menyapa
hanya aku bayang lalu
_dan merebahlah cinta,
merebahlah ninneta
di kutub kutub lafal Al Qur'an
ada namamu
...NINNETA [penyempurna imanku]
____________MF
Senin, 19 Juli 2010
masih aku
padang
membentang
wajahmu
lengang
―――――
JENDELA
mungkinkah jendela yang kau buka
membuka hatimu
yang lara?
―――――
MIMPI
musim hujan mimpi
menyirami hidupmu yang kering
dan mimpi itu semakin indah
ketika hidupmu semakin kering
―――――
MALAM
aku sudan bisa melihat bintang
―――――
ISTRI
sudah lahir istri
dari rahim ibu tercinta
"cepat besar, Nak,
kelak kan kuhadiahi
kau, seorang suami"
dan istri pun makin besar
sayang, suami makin kecil
―――――
GEDUNG-GEDUNG
Socrates tertimbun gedung-gedung
Plato menangisinya
Aristoteles mengusap air matanya
―――――
AWAN
awan putih
mirip mimpimu
terbang bersama merpati
senja hari
aku
MARI KITA LUKIS CAKRAWALA
Bila harus kugambar mata Tahira dengan warna cahaya
aku pandang pelupukmu menarikan kuas jingga
menggapai bentuk-bentuk pesona
dan kau lukiskan di tengah padang musafirku
wajah cakrawala mengelilingi cakrawala
yang pernah singgah dalam mimpi perempuan buta
saling kita tawarkan sepanjang perjalanan kafilah
Bila kuinginkan cakrawala
dalam diam gua
batu-batu berbicara
lebih nyaring dari seruling pecinta
―――――
SAHABATKU BURUNG ABABIL
Sarangku sarang burung Ababil
dijalin huruf alif, dan laam dan miem
malamku habis dimamah panah rindu
shubuhku henyak dalam pesona langit
jauh, ketika aku terpana
sahabatku mengantar sukma ke puncak-puncak mega
membaca matahari yang terbelah
mengeja jarak yang dibentangkan masa
Ababil
bersamanya kubangun kemah-kemah
ditengah kecemasan oleh badai nafsu
kami bernaung dengan sarang-sarang
mengaji malam mengaji perjalanan
di tengah cahaya temaram
―――――
PEREMPUAN YANG IBU
Perempuan yang ibu takkan lahir
dari rahim bumi berlepotan lumpur dan sampah
yang pintu nuraninya diselubungi cadar kegelapan
dan pekat bersama harapan-harapan terkapar
Perempuan yang ibu lahir
dari buaian cakrawala
dari ukiran udara berwarna daun semesta
yang menyapa alam dengan bahasa mawar
atau kebeningan telaga
tak ada matahari luput dari jendela
―――――
KAFILAH DUNIA
seperti menatap huruf rapi pada lembaran buku
kabarmu nan jenaka bacakan dunia dalam kafilahku
kebeningan telaga memancar dari kedalaman risaumu
singkapkan warna seribu pelangi
gairah yang tertinggal dalam mabukku
O adikku
bebaskan kicaumu menyambut matahari kalbu
karena sebenar pesta adalah nafas cakrawala
yang terbangkan ayat-ayat pada udara semesta
lihatlah! dunia terpapar dalam cermin sejarah
~~~javanese~~~
natkala sepisanan sliramu rawuh, nimas
ing plataraning atiku iki
ngujiwating esemmu kuwawa nggonjingake jagading rasaku
kang gumulung geleng anglari sumempyoking banyu sengsem
kang dak antu ing gisiking tlaga wening
ing wewengkon gumrininging pasuryanmu
natkala sliramu anyandhi sengsem, nimas
ing wungkulaning atiku iki
nyuntak rasa anglarung wijiling tresna
ngrenda gumebyaring pangentha-entha
ngrukti jumbuhing atiku lan atimu
nyandhi pepethan kang karob segara madu
natkala atiku lan atimu amiwaha endahing tresna
lelumban ing lumahinh rembulan
sliramu oncat ngawiyat
bareng sumiliring angin sowan Hyang Widi
tinggalana aku esem ngujiwatmu, nimas
bisoa dak anggo ngeneng-enengi tangisku
tinggalana aku endahing kasulistyanmu, nimas
bakal dak larung ing sendhanging rasaku
dak aturi rawuh ing pangangenku, nimas
ing saben panrawang nglambrang ing awang-awang
paseksen tumapaking ubaya
tan kemba ilining tresna
Minggu, 27 Juni 2010
cerita saja
pesan chrisant yang memutihkan rindumu

lama
ya, melankolis
kau selalu begitu
mendiamkan diammu di ujung jemari matahari 5
seperti retak retak tanah yang resah
dan pesan pesan chrisant yang melemah
kisah cinta yang membunga
..
maka diamlah'
sang pendiam
taukah kau'
ku sembunyikan lirih nada nada perih setiap tetes air
yang kuresapkan pada bunga chrisant..
menyayap , riuh riuh rindu
dan aku kehilangan seribu serbuk pesonamu
...?
bukahkah cukup meresah...jiwa
tapi sudahlah"
aku mencintaimu sang penabur racun hati
dan biarkan chrisant ini sebagai "penerjemah hati "
melankolis..
berdiam kata
mimpi mimpi melankolis menyenja

lingkarang mimpi mimpi menyenja'
menyenja'
biarkalah'
mimpi mimpi itu dan fatamorfosa
bukankah kau' melankolis
masih merahasia dalam balut balut luka memerih rasa
mengelana kata berjuta juta detik lalu
diam diam menemui sang pendiam merahasia
dan, tak berkata hanya diam saja'
[kau memang suka diamnya]
hingga lingkar hatimu menyenja jelas
dimata mata mata mereka'
masih elak, pelangi itu mewarna dimatamu
sang melankolis;
dan mimpi mimpi yang sembunyi
[dan aku tau kau suka itu]
rahasia resah resah

antara pinus pinus
kabut mengabut
melentera cahaya kunang
pircik percik gelisah dan resah
peri meresah
mengibas sayap sattu yang patah
antara kamomile dan satin
memilin rindu tak henti
kau tau...
resah masih setia menunggu
dan kabut yang memuai
menjadi embun embun di sapa'an pagi
malam masih merahasia juga
rasa masih menyelaraskan sandisandi
seperti rumput teki yang menyimpan misteri
dan rindu rindu kecil yang perunggu
ah, kau sudah terlalu tau
tentang aku
tentang gerimis rinduku
dan tentang rasa rahasiaku
bola romantisme sheriofa
bertapalah cinta
menjalin seribu mewarna
antara cahaya melankolis yang beradu nama
membulat, bola seribu mimpi sang sheriofa
pekat pekat hitam yang legam
mencatat rahasia yang menghitam
di antara gelap,saling bersembunyi
ku selipkan seribu rindu yang memilu
antara bola romantisme yang mematikan
mengawetlah cinta
merahasia rasa
malam bukankah tau,
aku selalu sembunyikan rasa
taukah kau,
rindu yang pilu
taukah kau?
cinta yang meluka
semusim kamboja, menduka
dan jingga melarikan diri
menjauhi mata mata rona
seperti bulan sabit yang sengit
biarkan saja, luka
biarkan saja , perih
bukankah itu yang kau suka?
sang sheriofa, ....
beliung pilu merindu

ya [biarkan menjelajah semusim]
daun daun pinus menuai wajahmu
patahan rindu memenuhi ruang jeda merahasia
ketika beliung pilu merindu
gadis seribu rona
menjingga .. memerakkan pohon kata kata
katakan ...pada rona rahasia gadis
selipan kata tanpa bahasa
merayap di ujung daun daun surga
pecahkan senja .. dipelataran menuai cinta
kau petiki pilu, yang terselip pada hijau pinus menua
menyentak sayap melankolismu
jejeran airmata upacara di antara ranting ranting
merahasialah pesan pendiam
pada ikatan daun kering dan kamboja
mengawetkan jejak jejak jemari pilu merindu
tinggal senyum jinggamu yang mengayun mimpi sore itu
gadis seribu rona

gadis seribu rona
pohon mahonie yaang menua
menyimpan jejak dan cerita merahasia
termasuk sayapmu, yang membatikan symbol rahasia
dan kupu melankolis rindu ,
yang menyampaikan pesan, penerjemah seribu rona
gadis seribu rona
..
menjaring simbol rahasia
tengah malam yang legam pekat hitam
ditempat rahasia itu
padang sheriof yang membahagia
tercatat, romantisme pendiam
menyimpan rona malu antara daun mahonie yang layu
berbisik bisik baris 3 kata
padanya, diamku
tercatat malu
tentang rona bersemu itu
diantara rumput yang menjarah malam -malam
melingkuplah daun daun rindu

memeraklah cahaya surga ditangan kencana
kelopak rindu membesar angkasa
awan pekat mencabuti warna
melankolis ..menunggui pelangi sepertiga malam
memerah kelopak selendang kencana
pada mahkota , bait dan selipan kata -kata
gadis ...menjejaki janji tak bersuara
mengoyak malam malam pendiam
masihkah kau menyulam tumpukan merahasia
rona jingga tanpa kata?
habis waktu menyuaraimu
sang pendiam...
gadis melankolis itu ,...mengais ceceran
tatapan mata [bernada cinta]
...
[biarkan saja , tak bersuara]
sematan .. mimpi sang sheriofa
menjejaki tudung tudung jingga
bakung cinta ..mengayam kamboja
melilit lilit janji
sang sheriofa
semat mahkota pada kening merona
ribuan kupu rindu melankolis merayu
menyemburlah rasa rasa rahasia
menjingga ujung rindu daun akasia
di padang jingga sheriofalah ..tersungkur rindu mengabu
ribuan detik merahasiakan itu
tapi jinggalah menutupi waktu menanti
merindui sang melankolis tanpa henti
semak menjarah rindu rindu
tersungkur pada tanah bertuan cinta
jingga bertabur doa doa tanya
..
serahasia itu renung sang sheriofa
cahaya mengemas kode rahasia
da biarkanlah...
tumpukan balon membahagia rona..[jingga]

membulatlah ribuan mimpi [sang melankolis]
melingkarkan pada lengkungan pasti
[tentang adanya] istana jingga dan surga
pemilik seribu cahaya
merona... memerak
antara ribuan semat mimpi di mahkota [sang melankolis]
masih saja [ kau]
menabur ribuan mimpi mimpi lagi
memestakan bahagia [katamu]
dan [ aku mengerti]
tumpukan balon rahasiamu
[masih tentang- pendiam rahasia
serahasia rasamu [bukan?]
[gadis melankolis]
kau sunting mimpi dan ungu duka bersama
dan masihkah rindu pilu memcecapi hatimu?
gadis seribu rona
..mengukir batik-batik rahasia
sematan simbol tanpa nama
rautan cahaya tak berbatas kata
[mencahayalah mimpi , katamu]
pemilik seribu doa malaekat

menghijaulah daun daun surga
menyebar aroma membahagia
kau[ pemilik seribu doa malaekat]
sang maha supersempurna
kali ini bukan tentang ungu kamboja
atau pelangi jingga seribu rona
tapi tentang [rona putih yang membias pinta sempurna]
sang melankolis
..[gadis seribu sihir mimpi itu]
mengemas cinta rahasia
pada sang maha supersempurna
terkirimlah seribu doa malaekat
pada ninneta ..[pecinta rangkai kata]
maka tersenyumlah
[pada mahasuper pesona]
terangkai ribuan doa rahasia
ya [untukmu..ninneta]
tengah malam ini
pada perak dan rona putih ku titipkan
serbuk serbuk jingga
maka mencahayalah jiwa
kobar -kobar rindu
membias kata , pada pohon akasia menua
saksi pinta
melebur membaur
kubaca pesan dari matamu
takdir bertemu....

tak sengaja menemukannya..
dalam sebuah butiran ketenangan...
bening,..jernihkan hari yang keruh
dalam setiap detik ..ketika dia turun
aku memahaminya...
makna setiap tetesnya..
kadang tak selalu menyenangkan
..dia..
kadang membawa cerita..cerita masa lalu
yang semakin membuat tetesannya menderas
...
sering ku duduk sendiri
menikmati gerimis sendirian
tapi aku tak pernah merasa sendiri
sepanjang gerimis ..selama itu
aku merasa adanya...
gadis itu..tetap menanti
tak sempat
dia...

Mungkin aku melihatmu
dalam kesendirian hati..
atau aku merasakannya
dalam kebekuan jiwa
rasa yang pernah tertelan waktu
kembali muncul menyapamu
jangan tanya kenapa aku?
Tapi...ada apa denganmu..
kemana jiwamu dulu melayang?
kenapa kamu bertanya dengan bayanganmu sendiri
tidak jelaskah hatimu mencerminkan?
hatimu bergejolak dengan misteri
..Jangan pernah menyapa Angin
jika kamu tak mampu berdiri lagi
..sepi..
larut
..malam
gelap..
ku baca dari mata
dari hati yang sebenarnya berteriak sama
apakah kamu sedang mencari dirimu sendiri.
"melontarkan seribu bertanyaan pada jiwa yg sama?"
pada hening yang melukiskan bagaimana sebenarnya kamu?
Dan aku yg bersatu dgn malam hanya tersenyum
sisakan tanda tanya untuk hatimu..?
kilasan pertama
aku tak pernah membayangkan, jika akan bertemu diaatau akan sinting karena pesonanya...dia terlalu sempurna jadi manusia
fisik yang sempurna, muka yang selalu bersinar seperti cahaya kristal-kristal terpancar dari wajahnya
dan pikiran yang begitu menakjubkan, tapi seorang pendiam dan sangat pemalu..
entah kenapa tak ada satu sosok wanitapun yang memikat hatinya...
yang aku tau dia normal, mungkin tipenya agak sedikit berbeda atau malah sedikit antik
ini hanya sebuah analisaku, karena aku sendiri hanya beberapa kali bertemu dengan dia
itupun tak pernah bertatap muka, ...apalagi ngobrol dengan dia.
...hingga pada suatu peristiwa ..ketika aku mendapat tugas pelajaran sejarah ..terpaksa aku pergi ke
perpusakaan sekolah.., aku tak begitu menyukai perpustakaan ini, agak terlalu ramai untuk ku kunjungi
, demi tugas sekolah..memaksa otakku buat mengganti rasa keterpaksaanku..hmmm dan ini jauh lebih baik
kelihatannya...sampai aku dan sorot matanya yang tajam bertatapan..."tidak teriakku dalam bathin"
ini sangat menyakitkan..aku harus segera pergi dari tempat ini..dan aku menuju kafetaria dengan langkah terburu-buru
Sabtu, 19 Juni 2010
JADI SATU
bisikan rahasia...

sayap biru melayu...
disini biarkan aku bertukar rahasia
dengan sepi..
ya..
malam ini aku dan angin berpisah
[diperempatan rahasia]
kami tak sempat bicara banyak,
lalu dipisahkan sepi..
peri] melankolis
kita melentera disana.....
dalam mimpi gadis sihir

ya.."dalam mimpi gadis sihir"
..kau tau sepasang peri menari
di atas "kuburan ."
melihatmu...masih berdiri disitu
...tanah kering..luka masa lalu...
dan seungu dukamu
tersimpan di lentera sana

ya..kita bertemu di tempat rahasia ini
[jembatan yang sering ku ceritakan]
pada percakapan rahasia kita
ya..kau tau itu
sisa -sisa ranting yang menyimpan catatan cinta menghijau
tapi..
biarkan saja menari dengan sepi
agar malam menghisap hangat sisa-sisa lentera
[ya..tempat rahasia ini]
percakapan musim mimpi
rindu ku yang perih ..
masih hangat ku simpan dalam lentera mengabu itu















