Minggu, 27 Juni 2010

cerita saja

pesan chrisant yang memutihkan rindumu


lama
ya, melankolis
kau selalu begitu
mendiamkan diammu di ujung jemari matahari 5

seperti retak retak tanah yang resah
dan pesan pesan chrisant yang melemah

kisah cinta yang membunga
..
maka diamlah'

sang pendiam

taukah kau'
ku sembunyikan lirih nada nada perih setiap tetes air
yang kuresapkan pada bunga chrisant..



menyayap , riuh riuh rindu
dan aku kehilangan seribu serbuk pesonamu
...?

bukahkah cukup meresah...jiwa
tapi sudahlah"
aku mencintaimu sang penabur racun hati
dan biarkan chrisant ini sebagai "penerjemah hati "

melankolis..
berdiam kata

mimpi mimpi melankolis menyenja


lingkarang mimpi mimpi menyenja'


menyenja'
biarkalah'
mimpi mimpi itu dan fatamorfosa

bukankah kau' melankolis
masih merahasia dalam balut balut luka memerih rasa

mengelana kata berjuta juta detik lalu
diam diam menemui sang pendiam merahasia
dan, tak berkata hanya diam saja'
[kau memang suka diamnya]


hingga lingkar hatimu menyenja jelas
dimata mata mata mereka'
masih elak, pelangi itu mewarna dimatamu


sang melankolis;
dan mimpi mimpi yang sembunyi
[dan aku tau kau suka itu]

rahasia resah resah


antara pinus pinus
kabut mengabut


melentera cahaya kunang
pircik percik gelisah dan resah
peri meresah
mengibas sayap sattu yang patah

antara kamomile dan satin
memilin rindu tak henti


kau tau...
resah masih setia menunggu
dan kabut yang memuai
menjadi embun embun di sapa'an pagi


malam masih merahasia juga
rasa masih menyelaraskan sandisandi


seperti rumput teki yang menyimpan misteri
dan rindu rindu kecil yang perunggu

ah, kau sudah terlalu tau
tentang aku
tentang gerimis rinduku
dan tentang rasa rahasiaku

bola romantisme sheriofa




bertapalah cinta

menjalin seribu mewarna
antara cahaya melankolis yang beradu nama
membulat, bola seribu mimpi sang sheriofa

pekat pekat hitam yang legam
mencatat rahasia yang menghitam

di antara gelap,saling bersembunyi
ku selipkan seribu rindu yang memilu
antara bola romantisme yang mematikan


mengawetlah cinta
merahasia rasa

malam bukankah tau,
aku selalu sembunyikan rasa

taukah kau,
rindu yang pilu
taukah kau?
cinta yang meluka

semusim kamboja, menduka
dan jingga melarikan diri
menjauhi mata mata rona
seperti bulan sabit yang sengit

biarkan saja, luka
biarkan saja , perih
bukankah itu yang kau suka?
sang sheriofa, ....

beliung pilu merindu



ya [biarkan menjelajah semusim]

daun daun pinus menuai wajahmu
patahan rindu memenuhi ruang jeda merahasia

ketika beliung pilu merindu
gadis seribu rona
menjingga .. memerakkan pohon kata kata

katakan ...pada rona rahasia gadis
selipan kata tanpa bahasa
merayap di ujung daun daun surga

pecahkan senja .. dipelataran menuai cinta
kau petiki pilu, yang terselip pada hijau pinus menua
menyentak sayap melankolismu
jejeran airmata upacara di antara ranting ranting

merahasialah pesan pendiam
pada ikatan daun kering dan kamboja
mengawetkan jejak jejak jemari pilu merindu

tinggal senyum jinggamu yang mengayun mimpi sore itu

gadis seribu rona


gadis seribu rona

pohon mahonie yaang menua
menyimpan jejak dan cerita merahasia
termasuk sayapmu, yang membatikan symbol rahasia
dan kupu melankolis rindu ,
yang menyampaikan pesan, penerjemah seribu rona

gadis seribu rona
..
menjaring simbol rahasia
tengah malam yang legam pekat hitam


ditempat rahasia itu
padang sheriof yang membahagia
tercatat, romantisme pendiam
menyimpan rona malu antara daun mahonie yang layu
berbisik bisik baris 3 kata

padanya, diamku
tercatat malu
tentang rona bersemu itu

diantara rumput yang menjarah malam -malam

melingkuplah daun daun rindu




memeraklah cahaya surga ditangan kencana
kelopak rindu membesar angkasa
awan pekat mencabuti warna

melankolis ..menunggui pelangi sepertiga malam
memerah kelopak selendang kencana
pada mahkota , bait dan selipan kata -kata

gadis ...menjejaki janji tak bersuara
mengoyak malam malam pendiam
masihkah kau menyulam tumpukan merahasia
rona jingga tanpa kata?

habis waktu menyuaraimu
sang pendiam...
gadis melankolis itu ,...mengais ceceran
tatapan mata [bernada cinta]
...
[biarkan saja , tak bersuara]

sematan .. mimpi sang sheriofa



menjejaki tudung tudung jingga
bakung cinta ..mengayam kamboja
melilit lilit janji


sang sheriofa
semat mahkota pada kening merona
ribuan kupu rindu melankolis merayu
menyemburlah rasa rasa rahasia

menjingga ujung rindu daun akasia
di padang jingga sheriofalah ..tersungkur rindu mengabu

ribuan detik merahasiakan itu
tapi jinggalah menutupi waktu menanti

merindui sang melankolis tanpa henti
semak menjarah rindu rindu

tersungkur pada tanah bertuan cinta
jingga bertabur doa doa tanya

..

serahasia itu renung sang sheriofa
cahaya mengemas kode rahasia
da biarkanlah...

tumpukan balon membahagia rona..[jingga]




membulatlah ribuan mimpi [sang melankolis]

melingkarkan pada lengkungan pasti
[tentang adanya] istana jingga dan surga
pemilik seribu cahaya

merona... memerak
antara ribuan semat mimpi di mahkota [sang melankolis]
masih saja [ kau]
menabur ribuan mimpi mimpi lagi
memestakan bahagia [katamu]

dan [ aku mengerti]
tumpukan balon rahasiamu
[masih tentang- pendiam rahasia
serahasia rasamu [bukan?]

[gadis melankolis]
kau sunting mimpi dan ungu duka bersama
dan masihkah rindu pilu memcecapi hatimu?


gadis seribu rona
..mengukir batik-batik rahasia
sematan simbol tanpa nama
rautan cahaya tak berbatas kata

[mencahayalah mimpi , katamu]

pemilik seribu doa malaekat


menghijaulah daun daun surga
menyebar aroma membahagia
kau[ pemilik seribu doa malaekat]
sang maha supersempurna

kali ini bukan tentang ungu kamboja
atau pelangi jingga seribu rona

tapi tentang [rona putih yang membias pinta sempurna]

sang melankolis
..[gadis seribu sihir mimpi itu]
mengemas cinta rahasia
pada sang maha supersempurna


terkirimlah seribu doa malaekat
pada ninneta ..[pecinta rangkai kata]

maka tersenyumlah
[pada mahasuper pesona]
terangkai ribuan doa rahasia
ya [untukmu..ninneta]


tengah malam ini
pada perak dan rona putih ku titipkan
serbuk serbuk jingga

maka mencahayalah jiwa
kobar -kobar rindu
membias kata , pada pohon akasia menua
saksi pinta

melebur membaur

kubaca pesan dari matamu


lama...
kita berbincang lewat angin yang manja
lewat kata-kata yang menari dihati
sendiri...tak menyadari
berbagi...tak sadari
puncak jiwa tak terasa
namun ada
....ketika satu waktu tanpa sengaja
menjelma sebuah moment yang kita sadari
merasa ada , sedikit asing..
akhir ...dan awal yang bersamaan

takdir bertemu....


tak sengaja menemukannya..
dalam sebuah butiran ketenangan...
bening,..jernihkan hari yang keruh
dalam setiap detik ..ketika dia turun
aku memahaminya...
makna setiap tetesnya..
kadang tak selalu menyenangkan
..dia..
kadang membawa cerita..cerita masa lalu
yang semakin membuat tetesannya menderas
...
sering ku duduk sendiri
menikmati gerimis sendirian
tapi aku tak pernah merasa sendiri
sepanjang gerimis ..selama itu
aku merasa adanya...

gadis itu..tetap menanti



hampuran salju itu...berlomba saling mendahului....
merinai...dan gadis itu tetap menunggu ...
dia berdiam menatap langit sihir..perasaan

masihkah kau ingat..?


dia masih mengejar...
jejak kakimu yang disapu deras hujan
semakin menderas...
semakin cepat melangkah
menyusun sketsa...dan gambar-gambar air

tak sempat


kami berlalu pandang...
saling berdialog dalam hati
dan pergi tak sempat berucap arti
dan derasnya mimpi

dia...


Mungkin aku melihatmu
dalam kesendirian hati..
atau aku merasakannya
dalam kebekuan jiwa

rasa yang pernah tertelan waktu
kembali muncul menyapamu
jangan tanya kenapa aku?

Tapi...ada apa denganmu..
kemana jiwamu dulu melayang?

kenapa kamu bertanya dengan bayanganmu sendiri
tidak jelaskah hatimu mencerminkan?
hatimu bergejolak dengan misteri
..Jangan pernah menyapa Angin
jika kamu tak mampu berdiri lagi
..sepi..
larut
..malam
gelap..

ku baca dari mata
dari hati yang sebenarnya berteriak sama
apakah kamu sedang mencari dirimu sendiri.
"melontarkan seribu bertanyaan pada jiwa yg sama?"
pada hening yang melukiskan bagaimana sebenarnya kamu?

Dan aku yg bersatu dgn malam hanya tersenyum
sisakan tanda tanya untuk hatimu..?

..peri itu sedang kalut


peri sedang bosan tertawa
atau pun bermain dengan sayap malaikatnya
dia menepi...
dan memilih sendiri

kilasan pertama

aku tak pernah membayangkan, jika akan bertemu dia
atau akan sinting karena pesonanya...dia terlalu sempurna jadi manusia
fisik yang sempurna, muka yang selalu bersinar seperti cahaya kristal-kristal terpancar dari wajahnya
dan pikiran yang begitu menakjubkan, tapi seorang pendiam dan sangat pemalu..
entah kenapa tak ada satu sosok wanitapun yang memikat hatinya...
yang aku tau dia normal, mungkin tipenya agak sedikit berbeda atau malah sedikit antik
ini hanya sebuah analisaku, karena aku sendiri hanya beberapa kali bertemu dengan dia
itupun tak pernah bertatap muka, ...apalagi ngobrol dengan dia.
...hingga pada suatu peristiwa ..ketika aku mendapat tugas pelajaran sejarah ..terpaksa aku pergi ke
perpusakaan sekolah.., aku tak begitu menyukai perpustakaan ini, agak terlalu ramai untuk ku kunjungi
, demi tugas sekolah..memaksa otakku buat mengganti rasa keterpaksaanku..hmmm dan ini jauh lebih baik
kelihatannya...sampai aku dan sorot matanya yang tajam bertatapan..."tidak teriakku dalam bathin"
ini sangat menyakitkan..aku harus segera pergi dari tempat ini..dan aku menuju kafetaria dengan langkah terburu-buru

Sabtu, 19 Juni 2010

JADI SATU

bisikan rahasia...


sayap biru melayu...
disini biarkan aku bertukar rahasia
dengan sepi..
ya..
malam ini aku dan angin berpisah
[diperempatan rahasia]
kami tak sempat bicara banyak,
lalu dipisahkan sepi..

peri] melankolis




.......
malam tak mengganjil
dalam duniamu
..ku teriaki dari sudut-sudut sepi..
ya kau masih ditempat yang sama
serukan
melody melankolis
ya...peri dibalik pelangi itu
tenggelamkan resah ...
masih ingatkan cinta yang ku tinggalkan terlalu hangat

kita melentera disana.....



..ya pada dingin dan gelap yang bersaing
kita bercakap
..tentang apa sajalah
tentang musim gerimis romantis
hingga rindu yang mulai memerih rasa
...
masih disitu..
malam yang tak mengerti
tentang kita sendiri yang masih malu[mengakui bahagia itu]

dalam mimpi gadis sihir





ya.."dalam mimpi gadis sihir"

..kau tau sepasang peri menari
di atas "kuburan ."
melihatmu...masih berdiri disitu
...tanah kering..luka masa lalu...
dan seungu dukamu

tersimpan di lentera sana

tersimpan di lentera sana



ya..kita bertemu di tempat rahasia ini
[jembatan yang sering ku ceritakan]

pada percakapan rahasia kita
ya..kau tau itu
sisa -sisa ranting yang menyimpan catatan cinta menghijau
tapi..
biarkan saja menari dengan sepi
agar malam menghisap hangat sisa-sisa lentera
[ya..tempat rahasia ini]
percakapan musim mimpi
rindu ku yang perih ..
masih hangat ku simpan dalam lentera mengabu itu

GUGURAN MUSIM ITU

guguran musim itu


...ya biarkan kali ini
gugur-guguran rindu menyepi..

dengarkan saja ..
pada ranting mengering itu
[ku ceritakan padanya]
tentang cintaku yang takut bicara
..tentang kamu rindu
kecilku yang tak terungkap
[tentang kamu ..gerimis..yang memerihkan ]

bukankah memang ini musim bunga kamboja
pantaslah jika hati berduka...

~~panen kamboja~~



yach..kali ini aku sedang tak ingin berpuisi
...
sendiri itu menyapaku lagi..
entah dengan alasan apa dia mampir kepadaku
kemaren sore...aku sengaja pergi..
ke tempat rahasia itu lagi

..bukan tuk mengunjungi rindu kecil
yang diselipkan antara kelopak -kelopak bunga pinus
..tapi aku mencari serpihan masa lalu..
"dia tertinggal di situ...di samping bunga kamboja
...menduka...
..ah..tak sanggup aku melihatnya..
"luka itu menghantuiku ..aku bersalah..
ya aku bersalah..meninggalkan dia di tepi luka yang masih sangat perih
..maaf ..tapi bukan aku tak perih melihat lukamu
..lebih tak sanggup melihat mata kecewamu
...gerimis sore itu..adalah guratan rasa kecewamu
gerimis sore itu adalah jatuhan kesedihan
gerimis sore itu adalah rindu yang tak sampai
..lalu bagaimana nasib serpihan itu
...biar ku tiup bersama bau tanah basah
menghilang ..lepas..rasa bersalah
[ya..sore itu]
aku ditempat rahasia
dimana serpihan masa lalu tertinggal
...lalu panen bunga kamboja bersama ungunya duka

Selasa, 08 Juni 2010

^^ "MAHABHARATA" ^^

Mahabharata

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini adalah bagian dari seri
Susastra Hindu
aum symbol
Veda
Rgveda · Yajurveda
Samaveda · Atharvaveda
Pembagian Veda
Samhita · Brahmana
Aranyaka · Upanisad
Upanishad
Aitareya · Bṛhadāraṇyaka
Īṣa · Taittirīya · Chāndogya
Kena · Muṇḍaka
Māṇḍūkya ·Praśna
Śvetaśvatara
Wedangga
Śikshā · Chanda
Vyakarana · Nirukta
Jyotisha · Kalpa
Itihasa
Mahabharata · Ramayana
Susastra lainnya
Smrti · Purana
Bhagavad Gita · Sutra
Pancaratra · Tantra
Kumara Vyasa Bharata · Stotra
Hanuman Chalisa · Ramacharitamanas
Shikshapatri · Vachanamrut
Lihat pula
Mitologi
Kosmologi
Dewa-Dewi
Portal Hindu

Mahabharata (Sansekerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Begawan Byasa atau Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Pengaruh dalam budaya

Ilustrasi pada sebuah naskah bersungging mengenai perang Bharatayuddha di Kurusetra.

Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.

Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.

Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.

Karya sastra lain yang juga terkenal adalah Kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa di masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya di masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri.

Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari zaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir zaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.

Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.

Dalam dunia sastera popular Indonesia, cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik yang membuat cerita ini dikenal luas di kalangan awam. Salah satu yang terkenal adalah karya dari R.A. Kosasih.

[sunting] Versi-versi Mahabharata

Di India ditemukan dua versi utama Mahabharata dalam bahasa Sansekerta yang agak berbeda satu sama lain. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.

[sunting] Daftar kitab

Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga.

Nama kitab Keterangan
Adiparwa Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu, seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya rakshasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi.
Sabhaparwa Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan Korawa di sebuah balairung untuk main judi, atas rencana Duryodana. Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun.
Wanaparwa Kitab Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12 tahun pengasingan diri di hutan. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti. Kisah Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.
Wirataparwa Kitab Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami pengasingan selama 12 tahun. Yudistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru masak, Arjuna sebagai guru tari, Nakula sebagai penjinak kuda, Sahadewa sebagai pengembala, dan Dropadi sebagai penata rias.
Udyogaparwa Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha). Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. Pandawa dan Korawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok.
Bhismaparwa Kitab Bhismaparwa merupakan kitab awal yang menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. Dalam beberapa bagiannya terselip suatu percakapan suci antara Kresna dan Arjuna menjelang perang berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gītā. Dalam kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Resi Bhisma pada hari kesepuluh karena usaha Arjuna yang dibantu oleh Srikandi.
Dronaparwa Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Korawa. Drona berusaha menangkap Yudistira, namun gagal. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca.
Karnaparwa Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana oleh Bhima. Salya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17.
Salyaparwa Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima.
Sauptikaparwa Kitab Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa.
Striparwa Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya.
Santiparwa Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja.
Anusasanaparwa Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Resi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang.
Aswamedhikaparwa Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.
Asramawasikaparwa Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Akhirnya Resi Narada datang membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri.
Mosalaparwa Kitab Mosalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.
Mahaprastanikaparwa Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya, sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.
Swargarohanaparwa Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa Dharma.

[sunting] Suntingan teks

Antara tahun 1919 dan 1966, para pakar di Bhandarkar Oriental Research Institute, Pune, membandingkan banyak naskah dari wiracarita ini yang asalnya dari India dan luar India untuk menerbitkan suntingan teks kritis dari Mahabharata. Suntingan teks ini terdiri dari 13.000 halaman yang dibagi menjadi 19 jilid. Lalu suntingan ini diikuti dengan Harivaṃsa dalam 2 jilid dan 6 jilid indeks. Suntingan teks inilah yang biasa dirujuk untuk telaah mengenai Mahabharata.[1]

[sunting] Ringkasan cerita

Peta "Bharatawarsha" (India Kuno) atau wilayah kekuasaan Maharaja Bharata

[sunting] Latar belakang

Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.

[sunting] Para Raja India Kuno

Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata.

Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan)[2]. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa.

Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa.

[sunting] Prabu Santanu dan keturunannya

Prabu Santanu dan Dewi Satyawati, leluhur para Pandawa dan Korawa

Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika).

Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim,namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan) bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta. Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa - Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata.

[sunting] Pandawa dan Korawa

Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.

Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.

Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana. Arjuna mewakili para Pandawa untuk memenangkan sayembara dan ia berhasil melakukannya. Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa.

[sunting] Permainan dadu

Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna

Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.

Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira secara perlahan namun pasti, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura dengan harapan dapat merebut harta dan istana milik Duryodana. Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Satu persatu kekayaan Yudistira jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saudara dan istrinya sendiri. Dalam peristiwa tersebut, pakaian Dropadi berusaha ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna. Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.

Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus menyerahkan kerajaan dan mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.

Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.

[sunting] Pertempuran di Kurukshetra

Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kretawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawas, Bahlika, Sangkuni, Karna, dan masih banyak lagi.

Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma.

[sunting] Penerus Wangsa Kuru

Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura.

[sunting] Silsilah

[sunting] Silsilah keturunan Maharaja Yayati

Nahusa
Priyambada


Dewayani
Yayati
Sarmista

Yadu
Turwasu
Druhyu
Anu
Puru



Yadu menurunkan
wangsa Yadawa
Puru menurunkan
wangsa Paurawa

[sunting] Silsilah keluarga Bharata

Puru



Wangsa
Paurawa




Generasi
Paurawa



Sakuntala
Duswanta



Bharata
Watsa



Keluarga
Bharata



Yasodari
Hasti



Para Raja
Hastinapura



Kuru
Yamadi


Dinasti
Kuru



Sunanda
Pratipa



Gangga
Santanu
Satyawati


Bisma
Citrānggada
Ambalika
Wicitrawirya
Ambika



Madri
Kunti
Pandu
Dretarastra
Gandari


Pandawa
Korawa

[sunting] Catatan kaki

[sunting] Bahan bacaan

  • S Pendit, Nyoman (2003), Mahabharata, PT Gramedia Pustaka Utama, ISBN 979-22-0352-4.
  • Haryanto, S. (1988), Pratiwimba Adiluhung, sejarah dan perkembangan wayang., Penerbit Djambatan, Jakarta., ISBN.
  • Zoetmulder P.J. (1983), Kalangwan, sastra Jawa Kuno selayang pandang, Penerbit Djambatan, ISBN

[sunting] Pranala luar