Selasa, 24 Agustus 2010

-beri AKU waktu-

Seharusnya Sambodo tak disini, tempat ini terasa asing buatnya. Dia kehilangan kesenyapan malam, sedang otaknya terus memacu logika untuk segera merdeka.

''Ra.. kapan ini akan tuntas..?''

''Entahlah Sam, aku masih buta dengan semua ini''

Rara masih berteka teki, baginya kemuakan akan keadaan yang stagnan, membuatnya merasa menjadi orang tertolol di dunia.

''Sungguh Sam, akupun bosan..
hatiku lebih rapuh dari hatimu''

''Rapuh kau bilang Ra?
dimana logikamu, bukankah ini yang kau mau?
aku memang mencintaimu, tapi aku bukan Karto, atau bekas bekas pacarmu dulu.
Aku suamimu, aku imammu''

Emosi Sambodo memuncak, dia merasa tak berada pada posisi yang semestinya.
Sedang Rara terdiam, sesekali menyeka air matanya.

''Sam, aku wanita, munafik dirimu.
Aku harus berdiri diantara orang yang melahirkanku dan kamu imamku,
pernahkah kau coba jadi aku?''

Sambodo terdiam, di hela nafasnya, detak jantungnya yang berpacu perlahan mencair.
lalu tubuh kekar itu memeluk istrinya dengan penuh cinta.

''aku mencintaimu sayang, tapi aku lelah menghadapi bundamu yang tak pernah anggap aku ada..

aku mencintaimu kemarin, hari ini, esok, dan selamanya..
Janjiku akan kurubah semua ini..
demi kita, demi bundamu..

beri aku waktu...''

Minggu, 22 Agustus 2010

'Mariana'...
sajakmu metafora, menyulut amarah pelangi di puncak senja.
'Mariana'...
mungkin kau lupa, kaulah yang memberi nyawa.
kesini kau, biar kujejali kepalamu dengan setumpuk angka,
barangkali kau akan sadar dari amnesia.
'Mariana'...
sepertinya kau mulai malu, sedari tadi disampingku hanya seperti orang gagu.
apa mungkin mulutmu telah tersumpal sumpah setiamu?
'Mariana'...
apa yang kau cari, kuharap kau mau berbagi.
disini kedzoliman sudah jadi kebiasaan, sudilah kiranya kau berbagi sedikit solusi, atau mungkin buat sekedar pengukuhan eksistensi.

'Mariana'...
syairmu ironi, sepertinya cocok jadi skenario film tragedi,
dan aku harap dapat mengalahkan rating Ariel, Luna Maya dan Cut Tari.
'Mariana'...
tanpa sadar, kini kau telah dewasa, kudengar kau sudah bisa main gila.
dia pria beranak istri kau sikat pula, tapi celaka, lelakimu pawangnya main gila, mungkin suatu hari kau akan di perkenalkan dengan gadis bernama Syaira.

'Mariana'...
pejamkan saja kantukmu, esok masih panjang buat kita beradu pemikiran.
oh iya, doaku buat mimpimu, semoga ketika bangun nanti masih punya nafsu.
'Mariana'...
luar biasa, amarah memuncak melihat gelagatmu yang tak punya lagi rasa malu.
seandainya hukum tak berlaku, sudah kucongkel biji matamu, kujadikan menu makan malamku.

'Mariana'...
seksimu menggoda, makin malam makin mirip Mulan Jameela. ayolah kita kawin siri saja, kan kubawa viagra buat mas kawinnya.
'Mariana'...
hari ini kau laksana halilintar, tapi tak cukup pintar.
dan 'skak matt' kau mati di langkah pertama, oleh cecunguk yang kau anggap tak berdaya, kau tak tahu, berdiri jenderal di belakangnya.

Mariana.. Mariana..
kau tak pernah belajar dari pengalaman, kini kau tinggal menanti ajal yang sebentar lagi datang.
rehatlah sayang, kan kutunggu desahmu, penutup episode kematianmu...


Jakarta, 23082010

musim Terakhir di Derai hujan

Rembulan masih malu malu di balik sekumpulan awan tipis. Sinarnya membiaskan siluet jingga membentuk pelangi cincin yang samar namun cukup indah. Ini malam aku mencumbui aroma kembang jagung yang semerbak di musin pancaroba. Mungkin esok aku harus kembali bergelut dengan waktu mengejar mimpi mimpi yang terbengkalai.

“mau kopi”... singkat dan cukup mengubah romantismeku dengan malam. Hmmm….ternyata masih ada yang terjaga selain aku disini.

“belum tidur ya….?” Aku sengaja mengalihkan tema obrolan tentang kopi, aku ‘membenci’ kopi. Bagiku dia tak cukup enak buat perutku yang sedikit sensitif dengan caffein.

“entahlah, aku ga tahu kenapa malam ini sepertinya enggan buat tidur, aku ingin mengenang malam ini untuk sekian ribu malam yang akan datang”

“kamu sendiri….?”

Diva mendekat padaku, lalu duduk disebelah kiriku, sambil menggenggam secangkir kopi yang asapnya masih mengebul dengan jelas, terlihat hitam pekat. Aku seperti mengulang masa lalu, ketika ada seorang gadis yang duduk di sampingku.

“aku ingin lebih lama menikmati kesunyian malam ini, mungkin esok aku tak menemukan ‘sakralnya’ malam seperti malam ini”

Sejenak kami terdiam, kulihat Diva memandang jauh kearah temaram rembulan. Kejernihan wajahnya terlihat begitu jelas meski tak ada sinar yang menyentuh sudut sudut wajahnya. Kubiarkan Diva menikmati keagungan malam ini, dia mungkin juga lupa, kopi pahit kental di tangannya perlahan mulai beku oleh hembus angin malam.

“mengapa ada pelangi…?”

“apa…?” Aku seperti tergugah oleh pertanyaan Diva. Aku terlalu menikmati keanggunan matanya, yang tetap tajam menantang tingginya waktu.

“mengapa ada pelangi di lingkar bulan…?”

Aku mencoba menyadarkan diri, mencari cari jawaban dari ringan pertanyaannya.

“bukankah itu hal yang biasa terjadi, dimana ada sinar, ada air, bisa di biaskan menjadi pelangi” …. sebuah teori alam pikirku.

“kali ini lain, aku menangkap sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh bulan malam ini”

Entah apa maksud dari kata katanya, aku seperti harus membuka kumpulan rumus kimia yang cukup bisa meledakkan isi kepala.

“bulan malam ini terlihat lain, aku dapat membaca redup sinarnya, tak seperti malam malam yang lalu”

Oh My God… dia seperti menyindirku.

Dia seperti tahu aku sedang memendam perasaan yang teramat besar, yang aku sendiri tak tahu sampai kapan mampu menahan luapannya.

“apa yang kau baca disana Va…?”

“aku terlalu bodah untuk membaca isyarat alam”

kini aku mencoba membalikkan kendali kata kata….

“seperti sebentuk hati, yang menahan rasa, tapi entah mengapa tak pernah sampai pada yang dituju”

Diva menatapku, entah sejak kapan, ingin kubuang muka ini, aku takut dia tahu apa yang tersimpan di mataku. Tapi entah apa, seperti ada yang mengikat kepala ini hingga aku tak mampu memalingkan pandangku sejenak saja dari tatap sejuknya.

Tuhan, jangan biarkan dia membaca kerinduanku padanya, aku tak ingin menjadikannya luka…

“kenapa diam…?”

Diva memudarkan anganku tentang rindu.

“entahlah, aku seperti pernah mendapat pertanyaan ini, mungkin dikehidupanku yang sebelumnya…..

ini seperti dejavu, mimpi tapi nyata…

kamu bukan seorang cenayang kan..?”

Dia tersenyum, sepertinya dia memenangkan permainan kata kata ini.

“kau anggap aku cenayang…?

sungguh aku tidak sedang membaca hatimu, aku sedang menikmati bulan saja….

apa ini seperti perasaanmu…?”

Ini pukulan telak, sepertinya aku benar benar kalah olehnya kali ini…

“hmmm…

aku tak pernah berdamai dengan hatiku, aku selalu mencoba melawan bisikannya…

terlalu banyak logika yang mengacak acak perasaan ini”

Diva kembali tersenyum kecil mendengar jawabanku.

Di seruputnya sisa kopi dingin di tangannya, seperti ada hujan di padang sahara, matanya yang tak jua sayu oleh malam, menyimpan sejuta rahasia, dan aku tak pernah mampu mengungkapnya.

Malam semakin jauh membawa kami dalam obrolan tentang pelangi, tentang bulan, lalu tentang hati. Angin yang berhembuspun semakin kencang. Perlahan aku merasakan dingin. Tak begitu dengan Diva, tak sedikitpun terlihat darinya terganggu oleh embun yang di bawa hembus angin, meski kulihat rambutnya yang hitam panjang mulai basah oleh titik titik embun.

Kali ini aku menunggu dia mengakhiri, pegulatan dengan malam. Namun, tetap saja dia tak pernah kalah olehku….

“kamu bosan…?”

Pertanyaan apa lagi ini, selalu saja ada seribu cabang dari pertanyaan pertanyaannya. Aku harus mencari jawaban yang multi tafsir.

“aku belum menemukan arti bosan sampai saat ini…

jikapun aku bosan tak mungkin sejauh ini aku bertahan”

Aku berharap kini ia yang akan masuk dalam permainan kataku.

“sejauh ini…?

lalu kenapa juga kamu tak pernah jujur dengan dirimu sendiri sejauh ini…?”

Yes…!!! Diva tak menyadari, kini aku yang akan pegang kendali.

kuraih tangannya….

“aku berbicara tentang malam ini, tentang pelangi, tentang bulan, dan aku belum bosan menikmatinya”

Kini aku tersenyum memandangi wajahnya yang tiba tiba berubah merah jambu, aku benar benar mengalahkannya kali ini.

Diva hanya terdiam, sesekali menyembunyikan rasa malunya dengan memalingkan tatapan matanya dari pandangku.

Sedang tanpa kami sadari tangan kami makin erat saling menggenggam.

Aku sepertinya telah sedikit berdamai dengan hatiku, aku memberi ruang pada seka seka hati untuk merasakan detak nadi ditangan Diva. Tak beraturan, mirip detakan nadi seorang pencuri yang habis di uber uber orang sekampung.

“Diva….

apa yang kau mau saat ini…?

semoga pertanyaan ini tak melenceng dari sasaran yang ingin aku tuju.

“aku mau malam ini tak berakhir…

aku mau saat saat seperti terulang lagi di malam malam selanjutnya”

……. “tentang aku atau tentang bulan dan pelangi…?”

“tentang semuanya, bahkan sisa kopiku ini akan menjadi kenangan tersendiri nantinya…?”

……. ” aku mengenalmu Va, aku tahu tentang dirimu, aku tahu tentang hatimu, aku tahu tentang perasaanmu…

……. namun aku sendiri yang tak pernah tahu tentang diriku”

“akankah kau ijinkan aku untuk mencari tahu tentang dirimu…?

apakah kau mencintaiku…?”

Pertanyaan yang tak pernah kujawab malam itu, bahkan ketika derai hujan menghempas keakraban kami, kami masih saja saling menggenggam jemari kami. Karena Diva pun telah tahu apa yang tersimpan di hatiku, jauh sebelum aku sendiri mengetahuinya, bahwa cinta ini memang untuknya…..

Jakarta, 22082010

Kamis, 12 Agustus 2010

~~tentang Ratna~~

1. Ratna Di Jingga Langit

Kutulis Ratna dari kekosongan
kutulis Ratna dari ketiadaan. Ketika ada,
tak juga menera angan kesendirian, mimpi kesunyian.
Hasrat mengabadikan Ratna dalam ingatan

Aku ingin membaca Ratna, seperti membaca diri. Sekali lagi.
Membaca kembali waktu, pulang kepada rindu.
Ketika Ratna masih terlelap di dalam lipatan kenangan
di dalam bingkai kerinduan, perih sunyi sekerat wajah rembulan.

Ratna seperti menangis di dalam nyeri waktu, tapi
Ratna mungkin saja tersenyum dalam diriku
Dan jingga langit serasa hendak mengeja Ratna
membaca puisi dalam kilau matanya.

Tapi di mana Ratna? Demikian suara senyap itu memanggil.
Menghitung jarak, membilang jumlah jejak.
Di mana tak ada lagi kelepak sayap
yang akan merubah detak sang waktu menjadi hening.
Wajah siapa ingin berpaling dan lebur di dalam kesunyian.
Bersama Ratna. Satu-satunya Ratna yang aku kenal.


2. Ratna Di Dalam Sunyi Kata-kata


Telah bertahun kutulis Ratna
seolah ia telah mati dan kuhidupkan kembali dalam puisi.

Kuberi ia bunyi untuk meneriakkan kebekuanku
Kuberi ia sayap untuk menerbangkan kepiluanku
namun masih menggumpal segala hasrat,
tumpat-padat segala penat di dalam benakku
tak kunjung mampu terjemahkan Ratna dalam sajakku
tak mampu jelmakan Ratna dalam hidupku.

Masih terus kuhirup nyeri dari setiap penggalan kata-kata
di mana tubuh Ratna terbungkus rapat di dalamnya.
Masih terus kusesap perih dari setiap lapis makna
di mana jiwa Ratna hadir dan tinggal
sebagai tawanan dalam rumahnya.

Serupa teka-teki
bertahun aku menyiksa diri sendiri:
memaksa diri mengurai titik-titik darah
dan mempergunakannya sebagai dawat
untuk melukiskan seribu luka
dan seribu kesedihan
di hati Ratna.


3. Ratna Di Beku Waktu


Satu ketika kulihat Ratna, duduk membatu di butir debu.
Tapi siapa tak melihat Ratna ketika itu?

Meskipun tak ada nama-nama untuk mengingat peristiwa
tak ada tanda-tanda awan di langit
atau pun beku di dinding-dinding waktu.
Semua lengang saja menera satu-satunya pilu
wajah sayu milik Ratna.

Ia seperti sesosok bayang-bayang
yang terbang dalam kesendirian
berusaha membunyikan kesunyian dalam dirinya.

Ia seperti ingatan yang terpenggal
hasrat yang tertinggal dari kepingan masa lalu.

Saat ia terbang bersama butiran debu itu
ia seperti tiada mengenal duka
matanya membayang kosong saja.

Barangkali ia cuma segumpal mimpi atau separuh ilusi
yang lupa menafsir, yang sepikan takdir:

bahwa hidup tak lain hanyalah sebuah misteri.


4. Ratna Di Debur Ombak


Adakah Ratna mengingat bintang tatkala ia menyaksi malam?
Siapa di sana memanggil namanya?

Masih ia hampiri laut untuk mengingat suara deburan ombak
dan ia susun istana harapan dari butir-butir pasir waktu.
Sayang, angin begitu cepat membuatnya berlalu
sebelum buih-buih itu sempat mencium bibir pantai.

Sekali, sempat kami dipertemukan di pantai itu.
Sekali saja, selepas itu ingatan terlupa menyimpan kenangan.
Tinggalkan segurat senyum di bibir Ratna.
Serupa hujan yang mengeras,
menjadi runcing jarum di detak waktu
kehilangan arah, melupa wajah Ratna.

Melupakan bayang-bayang keindahan di benak rembulan.
Tinggal sekerat kerinduan yang masih saja menyimpan
serpih perih sepotong duri.


5. Ratna Di Gurat Luka

Siapa yang lebih nyata daripada Ratna,
membaca lamunan dan impianku?
Bila saja ada yang lebih mengerti,
tak ada yang melampaui Ratna
menafsir kenyerian dan kepedihanku.

Tapi siapa yang lebih semu daripada Ratna?
Siapa yang lebih bayang dari dirinya?
Menulis sejumput ingatan dan selarik kenangan
terkandas begitu saja di kelok jalan.

Tak ada yang lebih membingungkan
tak ada yang lebih mengherankan
sebagaimana Ratna meninggalkan segurat duka
di atas telapak tangan kesunyian.
Pergi bersama bayang tengah hari
tanpa sepatah kata ataupun sepenggal pesan
tanpa sempat lagi nyatakan perih luka-lukanya.


6. Ratna Di Butir Pasir


Tak terjawab kerinduan yang terlanjur pergi
bersama bayangan Ratna.
Meraut kepedihan, menajamkan kenyerian
goresan luka di dalam jiwa.
Gersang tanah ini masih tak kunjung henti bertanya
kemana perginya Ratna?

Walau telah kutulis berjuta nama Ratna
dan kusematkan di butir-butir debu
lalu kuterbangkan ke jalan-jalan.
Telah kutulis bermilyar nama Ratna
dan kumeteraikan di butir-butir pasir
lalu kulayarkan ke tujuh samudra.
Masih tak juga kudengar berita
di mana Ratna yang sesungguhnya?

Telah kutera seluruh jejak nyeri di batang pohon
di kelepak sayap burung, di debur ombak, di desau angin
bahkan di jingga langit hanya untuk mencari sekerlip tanda
adakah Ratna pernah hadir atau tinggal di sana.

Namun demikianlah,
segunung tanya masih juga tak menemu jawab.


7. Ratna Di Detak Jantung


Kudengar Ratna: mengalir bersama keheningan
Setiap desah seperti tak henti menyebut namanya
Gersik pasir, desau angin, ratap kerikil
tak putus-putus membunyikan Ratna.

Ratna berbisik dalam diriku
Ratna berdetak dalam jantungku.
Kudengar Ratna bergetar dalam denyar alir darahku.

Bahkan setiap kali kubuka jendela
Ratna menghambur bersama angin dan kesunyian.

Telah lama kuingin menggapai Ratna
Dalam jaga aku tiada berbicara selain tentang dirinya
Dalam tidur aku tiada bermimpi selain tentang dirinya
Dalam rentang waktu tak henti Ratna menghantui diriku.

Dalam hembus nafasku ada hembus yang mengeja nafas Ratna
Dalam resah pikirku ada gelisah pikiran yang menera bayangan Ratna.
Tapi mengapa hampa hatiku masih juga tak menemu Ratna?
Ia terasa begitu asing, begitu jauh dan tak terjangkau.
Sekalipun tak putus-putus hasrat untuk menjumpa Ratna
dan menjadi sebagian kecil saja dari dirinya
namun mengapa masih rawan jiwaku tertampar kekosongan?

: Sebelum Ratna menjelma di dalam diriku
sebelum Ratna menyatu di dalam kesunyianku.


8. Ratna Di Dalam Tak


Mengapa tak kujumpa Ratna
dalam dentang lonceng gereja
dalam takbir suara azan memanggil
dalam wangi dupa dan butir-butir doa
yang tak sanggup ucapkan kerinduanku?

Apakah Ratna terlanjur membatu
menjadi sesosok arca dalam diriku?
Apakah terlalu kupuja Ratna
melebihi kebenaran yang tiada aku kenal?

Lalu mengapa Ratna menghantui diriku serupa itu?
Serupa duri yang terlanjur menancap ke dalam benak
Serupa hasrat yang merasuk ke dalam pikiran.

Telah merah segala luka
tiapkali Ratna berbisik dalam kupingku
menawarkan cinta dan kerinduan.
Namun entah mengapa
aku masih juga berpura-pura
tiada mendengar
atau mengindahkan
segenap seruannya.


9. Ratna Di Bening Mata


Melampaui realitas sehari-hari
begitu sering Ratna muncul di televisi.
Dengan rambut pendeknya
dengan senyum manisnya.

Siapa tak terpikat kepada Ratna?

Tapi siapa pula yang tahu rahasia
di balik kilau bening matanya
yang menatap lurus menembus
dinding kaca itu?

Tak ada yang mengenal Ratna serupa diriku
seperti aku mengenal jejak-jejak luka
yang tergores di sekujur wajah rembulan.

Lebih dari sekedar rasa sakit dan kepiluan
Luka itu adalah semesta cinta di hati Ratna.
Cinta yang pernah ia sematkan dalam hatiku.

Walau berabad lewat nyeri membeku di tabung televisi
Menera wajah Ratna. Menanda manis senyumnya, kerlip matanya.
Dan selaksa perih yang tiada henti menitik dari dalam hatinya.

10. Ratna Di Dingin Angin

Masih sempat kulihat
kebahagiaan terpancar di mata Ratna.
Walau sekejap menyaksi kilau mentari
dan bening cahaya menari di lengkung pelangi
terurai di atas gerai rambutnya.

Tapi entah mengapa
kami tak lagi bercakap sesudah itu
membiarkan lengang merengkuh
lengan-lengan telanjang kami.
Jemari dingin seperti ingin
sampaikan hembusan angin
serpih buih, gemuruh ombak
dan teriakan burung-burung camar.

Adakah kerinduan telah menjadi begitu terbiasa
menyangkal kehadirannya?
bahwa jejak terlanjur menera keterasingan
dan membuat jarak kami semakin menjauh.
Seakan keterpencilan ini
mampat begitu saja di rongga dada
dan mengeras di beku karang.

Ada yang sempat tak terucap di kelu bibir
Senja terus merambat di dalam diam. Di dalam tikam.
Gelora ombak seperti tiada henti membaca kecamuk pikiran.
Angin yang gemetar menyentuh jemari resah. Terlanjur basah.

: Adakah lengang waktu menjawab kerinduanmu Ratna?
atau barangkali kita telah tertidur tanpa sempat terjaga dan
terlambat menyadari, diri telah jauh tenggelam ke dalam mimpi.
Tak lagi mampu menemu jalan untuk dapat pulang kembali.


11. Ratna Di Kelam Malam


Siapa menyapa diriku di pijar lampu?
sedang lama tak kubalas sapa cahaya.
Telah lama aku terlanjur terpana oleh kegelapan
satu-satunya gelap yang aku cintai.

Ia bernama Ratna,
dengan rambut ikal yang kelam
dengan kulit lembut yang legam
tapi tak ada wajah yang semanis Ratna
tak ada yang sehalus elus telapak tangannya.
Walau masih ada dingin gurat tipis di bibir Ratna
tak ada menanda senyum atau kerinduan.

Tak ada gelap yang begitu aku cintai
yang sanggup memilin hasratku
yang mengharu-biru daging dalam diriku

Begitulah Ratna membalas segenap cintaku
dengan sejuta kelam malam dalam dirinya
namun masih juga ia simpan sekeping duri:
Bayang kesendirian yang perlahan
mengabur di pijar lampu.


12. Ratna Di Lipat Buku


Siapa gemar membaca
pastilah pernah membaca Ratna
Siapa suka menulis
pastilah pernah menulis Ratna,
karena Ratna hidup dan tinggal di lipat buku
Sebagai kenangan, sebagai tanda
untuk mengekalkan waktu dan angan-angan.

Saat kukaji makna ia sembunyi di dalam kata
ketika kukaji lagu ia sembunyi di dalam nada.
Serupa kerlip rembulan di balik awan.
Demikianlah Ratna hidup dalam benakku, sebagai pikiran.
Berdetak dalam jantungku sebagai harapan.
Berdenyut dalam nadiku sebagai kerinduan.
Semesta cinta yang tiada habis kugali dari tetesan hujan
di mata Ratna. Dan satu kali nanti mungkin
aku dapat menyebutnya sebagai sebuah kebenaran.


13. Ratna Di Serpih Mimpi


Setelah usai waktu membuai diriku
aku tak sempat lagi terjaga. Menemu Ratna.
Tenggelam ke dalam mimpi.

Ratna seperti lautan ombak
yang mengggulung diriku dengan kebimbangan
seperti deru angin yang tiada henti
membalut diriku dengan kecemasan

Lupa waktu menambat angan
labuhkan perih duri dan kelopak-
kelopak mawar di rambut Ratna.

Kami telah menjelma jadi sepasang kupu-kupu
dengan sayap-sayap keemasan.

Kami telah menjadi sepasang kekasih
yang menulis perih di kening mimpi.
Membunyikan embun, membunyikan hujan
menjadi sebuah alunan simphoni
yang membawa leka waktu
menjadi sebuah perhentian:
Betapa belenggu mimpi tak akan pernah lagi
membuat kami terjaga.

14. Ratna Di Dalam Puisi

Ketika kubuka pintu kutemu Ratna dalam puisi
menjelma cinta dalam keseharian
seperti udara yang aku hirup
seperti nasi yang aku makan
semuanya ada di dalam Ratna.

Kubuka jendela dan kujumpa Ratna
menghambur bersama cahaya
serupa mentari tebarkan kehangatan
serupa rembulan pancarkan kedamaian.

Ratna berlagu dalam diriku
Ratna bernyanyi dalam hatiku
Selepas senja lindap menghampiri fajar
dan mencium lembut bibirnya, hingga
berdua sama-sama tenggelam
dalam lautan asmara
yang tak putus-putus.


15. Ratna Di Pijar Doa


Seberapa bening kilau embun menjelang fajar?
masih tak mampu tandingi bening di hati Ratna
Seberapa cerlang mentari tengah hari?
masih tak mampu menentang cerlang di mata Ratna
Bukankah Ratna telah hamparkan kerinduan
yang merangkum segenap angan
yang merengkuh pertalian mimpi. Satu dalam diriku.
Membunyikan genderang cinta hanya kepada Ratna.
Sebab Ratna lampaui semua khayalan.
Getar musik dan keindahan
larik-larik puisi yang layangkan haru dan kesedihan
Segenap rasa yang bergugus makna
Pijar-pijar doa yang labuhkan perih
Pertautan rindu dan dendam.

Karena tiada kukenal nama selain Ratna
Sekiranya ia manusia
Sekiranya ia tuhan
Sekiranya ia bukan siapa-siapa
kepada siapa harus aku kobarkan
api dalam jiwa ini
kepada siapa harus aku langitkan
doa dari perih ini
pinta dari serpih ini
puja dari luka ini
hanya untuk menera
satu-satunya cinta
dalam jiwaku?

Jakarta, 12 Agustus 2010 ............... 0919 pm


``asmaradhana``


Hendaknya asmara menghantar bunga. Semerbak menghantar rindu. Gemulai masuk balai paseban, bersama redup lentur damar haturkan persembahan ke hadapan Sri Rama. Sang Narapati. Terpekur di atas singasana. Antara ragu dan sendu rayu. Gerimis menitik, entah suka entah sedih, entah bahagia entah perih. Lalu waktu menulis luka rembulan, sepikan pinangan. “Ataukah belum tiba saatnya samudera layarkan damba keharibaanmu wahai Narotama?” Seharusnya kereta menghantar cerita. Bersama mabuk angin dan pasukan berkuda. Seratus punggawa. Bala tentara Wanara menyiapkan hantaran. Tunggal. Diri yang suci, tak lain cinta. Dalam diri Shinta seorang. Dialah nirmala, ratu dari segala kembang. Dialah narwastu, akar heharuman, wangi dari segala parfum. Putih tiada ternoda. Tapi, siapa hendak menera sangsi di batin Sang Prabu? Setelah rembulan menera jejak, setelah angin sentuh segala ingin di helai rambut Sang Dewi. Siapa masih sanggup menera resah di mata Sang Raja? Kiranya tarian rembulan sanggup hantarkan cinta ke hadapan Sri Rama. Tak perlu sangsi mengusik hati, tak hendak resah malam menghantar senyap. Api merepih dan kemudian membara, mengibas luka-luka perih, mengeras di jantung. Hangus. Menikam-nikam serupa sembilu. Lepas di mata, lepas di mulut, membakar hati membakar nyala cinta di dada. Membakar langit hingga merah saga, hingga langit menyala bersama hati yang berdarah. Oh Mestinya kata hantarkan diri. Telisik warna malam demikian muram. Nyeri yang tak terucap di bibir. Berdarah. Dalam kelopak-kelopak bunga angsoka ungu membiru. Gugur di tebing mimpi. Angan terbelah, kerinduan serupa ngarai, serupa jurang menganga. “Ah, mengapa cinta terakan luka sedemikian pedih?“ Jarum-jarum yang berdenting, pisau-pisau yang mendengus, dentang pedang. Menghunus luka dengan tajam kilaunya. Tak satu kuasa artikan tatap mata sebagai cinta. Satu-satunya cinta menitik di bibir yang pucat dan pilu. Masih juga sepi dari pinangan. Berpaling dengan wajah mengeras. Shinta, sang dewi. Berjalan perlahan, mengandung senyap. Dengan segenap cintanya menembus bara api.