Rembulan masih malu malu di balik sekumpulan awan tipis. Sinarnya membiaskan siluet jingga membentuk pelangi cincin yang samar namun cukup indah. Ini malam aku mencumbui aroma kembang jagung yang semerbak di musin pancaroba. Mungkin esok aku harus kembali bergelut dengan waktu mengejar mimpi mimpi yang terbengkalai.
“mau kopi”... singkat dan cukup mengubah romantismeku dengan malam. Hmmm….ternyata masih ada yang terjaga selain aku disini.
“belum tidur ya….?” Aku sengaja mengalihkan tema obrolan tentang kopi, aku ‘membenci’ kopi. Bagiku dia tak cukup enak buat perutku yang sedikit sensitif dengan caffein.
“entahlah, aku ga tahu kenapa malam ini sepertinya enggan buat tidur, aku ingin mengenang malam ini untuk sekian ribu malam yang akan datang”
“kamu sendiri….?”
Diva mendekat padaku, lalu duduk disebelah kiriku, sambil menggenggam secangkir kopi yang asapnya masih mengebul dengan jelas, terlihat hitam pekat. Aku seperti mengulang masa lalu, ketika ada seorang gadis yang duduk di sampingku.
“aku ingin lebih lama menikmati kesunyian malam ini, mungkin esok aku tak menemukan ‘sakralnya’ malam seperti malam ini”
Sejenak kami terdiam, kulihat Diva memandang jauh kearah temaram rembulan. Kejernihan wajahnya terlihat begitu jelas meski tak ada sinar yang menyentuh sudut sudut wajahnya. Kubiarkan Diva menikmati keagungan malam ini, dia mungkin juga lupa, kopi pahit kental di tangannya perlahan mulai beku oleh hembus angin malam.
“mengapa ada pelangi…?”
“apa…?” Aku seperti tergugah oleh pertanyaan Diva. Aku terlalu menikmati keanggunan matanya, yang tetap tajam menantang tingginya waktu.
“mengapa ada pelangi di lingkar bulan…?”
Aku mencoba menyadarkan diri, mencari cari jawaban dari ringan pertanyaannya.
“bukankah itu hal yang biasa terjadi, dimana ada sinar, ada air, bisa di biaskan menjadi pelangi” …. sebuah teori alam pikirku.
“kali ini lain, aku menangkap sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh bulan malam ini”
Entah apa maksud dari kata katanya, aku seperti harus membuka kumpulan rumus kimia yang cukup bisa meledakkan isi kepala.
“bulan malam ini terlihat lain, aku dapat membaca redup sinarnya, tak seperti malam malam yang lalu”
Oh My God… dia seperti menyindirku.
Dia seperti tahu aku sedang memendam perasaan yang teramat besar, yang aku sendiri tak tahu sampai kapan mampu menahan luapannya.
“apa yang kau baca disana Va…?”
“aku terlalu bodah untuk membaca isyarat alam”
kini aku mencoba membalikkan kendali kata kata….
“seperti sebentuk hati, yang menahan rasa, tapi entah mengapa tak pernah sampai pada yang dituju”
Diva menatapku, entah sejak kapan, ingin kubuang muka ini, aku takut dia tahu apa yang tersimpan di mataku. Tapi entah apa, seperti ada yang mengikat kepala ini hingga aku tak mampu memalingkan pandangku sejenak saja dari tatap sejuknya.
Tuhan, jangan biarkan dia membaca kerinduanku padanya, aku tak ingin menjadikannya luka…
“kenapa diam…?”
Diva memudarkan anganku tentang rindu.
“entahlah, aku seperti pernah mendapat pertanyaan ini, mungkin dikehidupanku yang sebelumnya…..
ini seperti dejavu, mimpi tapi nyata…
kamu bukan seorang cenayang kan..?”
Dia tersenyum, sepertinya dia memenangkan permainan kata kata ini.
“kau anggap aku cenayang…?
sungguh aku tidak sedang membaca hatimu, aku sedang menikmati bulan saja….
apa ini seperti perasaanmu…?”
Ini pukulan telak, sepertinya aku benar benar kalah olehnya kali ini…
“hmmm…
aku tak pernah berdamai dengan hatiku, aku selalu mencoba melawan bisikannya…
terlalu banyak logika yang mengacak acak perasaan ini”
Diva kembali tersenyum kecil mendengar jawabanku.
Di seruputnya sisa kopi dingin di tangannya, seperti ada hujan di padang sahara, matanya yang tak jua sayu oleh malam, menyimpan sejuta rahasia, dan aku tak pernah mampu mengungkapnya.
Malam semakin jauh membawa kami dalam obrolan tentang pelangi, tentang bulan, lalu tentang hati. Angin yang berhembuspun semakin kencang. Perlahan aku merasakan dingin. Tak begitu dengan Diva, tak sedikitpun terlihat darinya terganggu oleh embun yang di bawa hembus angin, meski kulihat rambutnya yang hitam panjang mulai basah oleh titik titik embun.
Kali ini aku menunggu dia mengakhiri, pegulatan dengan malam. Namun, tetap saja dia tak pernah kalah olehku….
“kamu bosan…?”
Pertanyaan apa lagi ini, selalu saja ada seribu cabang dari pertanyaan pertanyaannya. Aku harus mencari jawaban yang multi tafsir.
“aku belum menemukan arti bosan sampai saat ini…
jikapun aku bosan tak mungkin sejauh ini aku bertahan”
Aku berharap kini ia yang akan masuk dalam permainan kataku.
“sejauh ini…?
lalu kenapa juga kamu tak pernah jujur dengan dirimu sendiri sejauh ini…?”
Yes…!!! Diva tak menyadari, kini aku yang akan pegang kendali.
kuraih tangannya….
“aku berbicara tentang malam ini, tentang pelangi, tentang bulan, dan aku belum bosan menikmatinya”
Kini aku tersenyum memandangi wajahnya yang tiba tiba berubah merah jambu, aku benar benar mengalahkannya kali ini.
Diva hanya terdiam, sesekali menyembunyikan rasa malunya dengan memalingkan tatapan matanya dari pandangku.
Sedang tanpa kami sadari tangan kami makin erat saling menggenggam.
Aku sepertinya telah sedikit berdamai dengan hatiku, aku memberi ruang pada seka seka hati untuk merasakan detak nadi ditangan Diva. Tak beraturan, mirip detakan nadi seorang pencuri yang habis di uber uber orang sekampung.
“Diva….
apa yang kau mau saat ini…?
semoga pertanyaan ini tak melenceng dari sasaran yang ingin aku tuju.
“aku mau malam ini tak berakhir…
aku mau saat saat seperti terulang lagi di malam malam selanjutnya”
……. “tentang aku atau tentang bulan dan pelangi…?”
“tentang semuanya, bahkan sisa kopiku ini akan menjadi kenangan tersendiri nantinya…?”
……. ” aku mengenalmu Va, aku tahu tentang dirimu, aku tahu tentang hatimu, aku tahu tentang perasaanmu…
……. namun aku sendiri yang tak pernah tahu tentang diriku”
“akankah kau ijinkan aku untuk mencari tahu tentang dirimu…?
apakah kau mencintaiku…?”
Pertanyaan yang tak pernah kujawab malam itu, bahkan ketika derai hujan menghempas keakraban kami, kami masih saja saling menggenggam jemari kami. Karena Diva pun telah tahu apa yang tersimpan di hatiku, jauh sebelum aku sendiri mengetahuinya, bahwa cinta ini memang untuknya…..
Jakarta, 22082010


Tidak ada komentar:
Posting Komentar