'Mariana'...
sajakmu metafora, menyulut amarah pelangi di puncak senja.
'Mariana'...
mungkin kau lupa, kaulah yang memberi nyawa.
kesini kau, biar kujejali kepalamu dengan setumpuk angka,
barangkali kau akan sadar dari amnesia.
'Mariana'...
sepertinya kau mulai malu, sedari tadi disampingku hanya seperti orang gagu.
apa mungkin mulutmu telah tersumpal sumpah setiamu?
'Mariana'...
apa yang kau cari, kuharap kau mau berbagi.
disini kedzoliman sudah jadi kebiasaan, sudilah kiranya kau berbagi sedikit solusi, atau mungkin buat sekedar pengukuhan eksistensi.
'Mariana'...
syairmu ironi, sepertinya cocok jadi skenario film tragedi,
dan aku harap dapat mengalahkan rating Ariel, Luna Maya dan Cut Tari.
'Mariana'...
tanpa sadar, kini kau telah dewasa, kudengar kau sudah bisa main gila.
dia pria beranak istri kau sikat pula, tapi celaka, lelakimu pawangnya main gila, mungkin suatu hari kau akan di perkenalkan dengan gadis bernama Syaira.
'Mariana'...
pejamkan saja kantukmu, esok masih panjang buat kita beradu pemikiran.
oh iya, doaku buat mimpimu, semoga ketika bangun nanti masih punya nafsu.
'Mariana'...
luar biasa, amarah memuncak melihat gelagatmu yang tak punya lagi rasa malu.
seandainya hukum tak berlaku, sudah kucongkel biji matamu, kujadikan menu makan malamku.
'Mariana'...
seksimu menggoda, makin malam makin mirip Mulan Jameela. ayolah kita kawin siri saja, kan kubawa viagra buat mas kawinnya.
'Mariana'...
hari ini kau laksana halilintar, tapi tak cukup pintar.
dan 'skak matt' kau mati di langkah pertama, oleh cecunguk yang kau anggap tak berdaya, kau tak tahu, berdiri jenderal di belakangnya.
Mariana.. Mariana..
kau tak pernah belajar dari pengalaman, kini kau tinggal menanti ajal yang sebentar lagi datang.
rehatlah sayang, kan kutunggu desahmu, penutup episode kematianmu...
Jakarta, 23082010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar