Selasa, 27 Juli 2010

melukis air matamu, wahai 'Nil'

Bila harus kugambar mata Tahira
dengan warna cahaya
aku pandang pelupukmu
menarikan kuas jingga
menggapai bentuk-bentuk
pesona
dan kau lukiskan di tengah
padang musafirku
wajah cakrawala mengelilingi
cakrawala
yang pernah singgah dalam
mimpi perempuan buta
saling kita tawarkan sepanjang
perjalanan kafilah
Bila kuinginkan cakrawala
dalam diam gua
batu-batu berbicara
lebih nyaring dari seruling
pecinta

'Nil'...
Air matamu merinai
memapah lemah dan sakitmu
kini sampai ia di tepian hatiku
menangis
dan aku
bersama doa sekumpulan ababil
hanya untukmu
kekasih
..........................
..MF


teruntuk NINNETA[gadis seribu doa]

menghijaulah daun daun surga
menyebar aroma kekhusukan
kau[ pemilik seribu doa
malaekat]
sayap sayap rapae

kali ini bukan tentang ungu
kamboja
...atau pelangi jingga seribu rona
tapi tentang [rona putih yang
membias pinta sempurna]
sang ninneta
..[gadis seribu doa mimpi itu]
mengemas cinta rahasia
pada jemari jemari madewa
terkirimlah seribu doa malaekat
...pada ninneta ..[pecinta rangkai
kata]

maka tersenyumlah
[rapak kepak sayap rapae]
terangkai ribuan doa rahasia
ya [untukmu..ninneta]

perjalanan hari
pada perak dan rona putih kutitipkan
serbuk serbuk jingga doa
maka mencahayalah jiwa
kobar kobar rindu
membias kata , pada pohon
akasia menua
saksi pinta

____________MF



dan hujanpun mengiring doamu_FARAHDIVA_

dan hujanpun mengiring doamu _FARAHDIVA_
Mereka merasai
betapa sayu kedua netramu
biar...```biarlah, sayang
derasnya membasah rumbai rambutmu
_mengertilah rindu_
menyejuk doa doa
yang kita titipkan pada
Ranting Ranting cuaca

_____________MF


jika [ini] doa...maka tersenyumlah_FARAHDIVA_

waktu bersinggut ke masa lalu
aku yang meretas asa akan hadirnya rindu, hadirnya dirimu
_hanyut dalam lelahmu
gadis [penyimpul tali hati]
lalu diam dalam seribu doa doa
..FARAHDIVA..[netra dalam gulita]
dengarlah... sayang, aku merapal ayat ayat
. tentang khafilah khafilah di jaman Muhammad
tentang kekasih Tuhan bermata intan
_ku genggam kepul kepul sabda para Rasul
dengan jemari penuh dosa
. sucikah rinduku, sucikah jiwaku
_yang mencintaimu_

bangun dan melangkahlah _FARAHDIVA_
...hari ini akan ada perjamuan cinta,
dari para bidadari berpita jingga
. lihatlah... sayang, mereka berbaris di berandamu
_di tangan mereka, tergantung untai doa
...itu penawar sakit dan lelahmu...
`lihat di ujung sana, kekasih...
` gadis dengan lesung di pipinya yang merah
malu malu...itu peri kecilmu
yang kala senja datang
menjelma kupu kupu, menjagamu
` lihat itu, sayang lelaki bershirah perak
_betapa gagahnya ia_
kau ingat, dia itu malaikat penjagamu
yang ketika malam tiba
. menjelma sejuta kunang kunang, mencahaya gelapmu

` _FARAHDIVA_ [kunci kunci cinta]
kulihat air matamu, memasuh gersang kedua pipimu
kau meluka, terluka, namun dalam dekap doa
_dan akupun menangis, sayang...
mendengar sejuta doa terlantun dari pencintamu
`sungguh, jika [ini] doa...maka tersenyumlah, _FARAHDIVA_
kekasih hatiku```
______Madewa FulQentius


[masih tentang] serpih doa yang tak lelah menghitam malam

*serpihan malam ini
membuka percakapan dua 'malaikat'
tentang doa doa tentang harapan dan rindu
ya...lirih hembus itu
sampai di pelataran hati
_cinta_

"bukan sayang, bukan...
bukan kamu 'malaikat' itu
kamu sudah lelah kan...?
dan kini terbaring terpejam matamu"
_biar aku saja,
yang menghitamkan malam ini
kau dengar dan rasakan saja
sentuh sentuh doa yang menyapa
_itu penawarnya sayang....
_lalu buka jemarimu, sayang
biar terbang mengangkasa
seribu kupu kupu
membawa
.. harapanmu
membawa doamu
_membawa cintamu
kehadirat Pemilik jiwa
__dan terjagalah doa, terjagalah rindu
oleh dekap hangatku
aku yang mengunci keping keping malammu
menghitamkannya
menyandingmu _cinta_
.. FARAHDIVA ..
______________MF


doa untukmu kekasih [FARAHDIVA]...jika esok tak ku temui pagi

........
untukmu Tuhan...
ini tentang perempuan dengan sayap patah di punggung kirinya
meluka
rembinya menyemai doa di malamku
_merubah rindu
menjadi rebah sendu
...di ujung purnama di detakan yang tak lagi rancak
...menyayat setiap sajak yang terkias dalam harap lemahnya

Tuhan_ ijinkanlah waktu
mengabarkan padaku
perempuan dalam lelap lemah itu menceria reranting sunyi
..ijinkanlah detak detak jantungku
mengalirkan darah di hatinya
mengganti harap asa meminta
..._ijinkanlah angin merumbai rindu rindu ini
menjadikan pelita di gelap pandangnya
yang tanpa cahaya
_Tuhan...dia FARAHDIVA, pemilik rinduMu

lihatlah Tuhan...
senyum letihnya
bukankah itu lembaran lembaran ayatMu...?
``dengarlah tangisnya Tuhan...
bukankah itu dendangan firman firmanMu...?
...dia FARAHDIVA, Tuhan...
'malaikat' mimpi yang menyimpul hatiku
dia_FARAHDIVA, Tuhan...
gadis seribu doa yang menyimpan lara di dada kirinya
...dia FARAHDIVA, Tuhan...
pelebur cinta karenaMu...

_dan jika esok pagi tak kutemui kuasaMu...
ini permohonanku
_"kembalikan FARAHDIVA, senyumnya
cerianya, tawanya
rancakkanlah detak di dadanya
agar ia menguntai lagi
serakan serpihan ranting sepi
...karena dia FARAHDIVA, kekasih penyempurna imanku"_

_______Madewa FulQentius


the DREAMer of DREAMs... [you are my FARAHDIFA]

You have come to me from a
distant land,
You are Farahdiva,
Dreamer of dreams, to fill my
hearts desire,
Sweet music flowing from your
nimble hand
That plays within... to light my
passion's fire.

_A symphony of word and
thought you bring.
Excitement builds upon
crescendo's sound,
Brought forth in tones to make
my light heart sing [FARAHDIVA's song]
For all the beauty that, with
you, I've found.

A life is changed in just an
instant's time,
All darkness fled before that
brilliant sun
That shines from spoken words
of softest rhyme
And speaks of treasures, only
just begun.

This mystic meeting gives my
heart a glow
That few have seen and only
you will know.
Coz you are my FARAHDIVA...
_____________MF



NINNETA_merebahlah di doa malamku

Ninneta [gadis pembenci senja]
_doa doamu di puncak teja
membias membentuk lengkung gemintang
cakra hati mensuci
tiap sujud di gerbang malam
[tentang rembi memutih pasi]
...ada sebentuk hati
kugambar gamang wajahmu [gadis perinai mimpi]

sekata asa,
aku jasat harap cita
menyisir selisir
lembab sembab
kedua retina
...Ninneta...
tak henti untai dendang kasih
memutar lingkar setapak labirin
detaknya berhenti di jantungku

merebah ninneta [di doa doa malamku]
cintanya semerah darah
mengisi kosong nadi
_mengaura tatap harap ujar ujar madewa_
seperti semusim lalu
ketika Tuhan menyapa
hanya aku bayang lalu
_dan merebahlah cinta,
merebahlah ninneta
di kutub kutub lafal Al Qur'an
ada namamu
...NINNETA [penyempurna imanku]

____________MF



Senin, 19 Juli 2010

masih aku

PADANG

padang
membentang
wajahmu
lengang

―――――

JENDELA

mungkinkah jendela yang kau buka
membuka hatimu
yang lara?

―――――

MIMPI

musim hujan mimpi
menyirami hidupmu yang kering
dan mimpi itu semakin indah
ketika hidupmu semakin kering

―――――

MALAM

aku sudan bisa melihat bintang

―――――

ISTRI

sudah lahir istri
dari rahim ibu tercinta
"cepat besar, Nak,
kelak kan kuhadiahi
kau, seorang suami"
dan istri pun makin besar
sayang, suami makin kecil
―――――

GEDUNG-GEDUNG

Socrates tertimbun gedung-gedung
Plato menangisinya
Aristoteles mengusap air matanya

―――――

AWAN

awan putih
mirip mimpimu
terbang bersama merpati
senja hari

aku

MARI KITA LUKIS CAKRAWALA


Bila harus kugambar mata Tahira dengan warna cahaya
aku pandang pelupukmu menarikan kuas jingga
menggapai bentuk-bentuk pesona
dan kau lukiskan di tengah padang musafirku
wajah cakrawala mengelilingi cakrawala
yang pernah singgah dalam mimpi perempuan buta
saling kita tawarkan sepanjang perjalanan kafilah

Bila kuinginkan cakrawala
dalam diam gua
batu-batu berbicara
lebih nyaring dari seruling pecinta


―――――

SAHABATKU BURUNG ABABIL

Sarangku sarang burung Ababil
dijalin huruf alif, dan laam dan miem
malamku habis dimamah panah rindu
shubuhku henyak dalam pesona langit
jauh, ketika aku terpana
sahabatku mengantar sukma ke puncak-puncak mega
membaca matahari yang terbelah
mengeja jarak yang dibentangkan masa
Ababil
bersamanya kubangun kemah-kemah
ditengah kecemasan oleh badai nafsu
kami bernaung dengan sarang-sarang
mengaji malam mengaji perjalanan
di tengah cahaya temaram


―――――

PEREMPUAN YANG IBU

Perempuan yang ibu takkan lahir
dari rahim bumi berlepotan lumpur dan sampah
yang pintu nuraninya diselubungi cadar kegelapan
dan pekat bersama harapan-harapan terkapar

Perempuan yang ibu lahir
dari buaian cakrawala
dari ukiran udara berwarna daun semesta
yang menyapa alam dengan bahasa mawar
atau kebeningan telaga
tak ada matahari luput dari jendela


―――――

KAFILAH DUNIA

seperti menatap huruf rapi pada lembaran buku
kabarmu nan jenaka bacakan dunia dalam kafilahku
kebeningan telaga memancar dari kedalaman risaumu
singkapkan warna seribu pelangi
gairah yang tertinggal dalam mabukku

O adikku
bebaskan kicaumu menyambut matahari kalbu
karena sebenar pesta adalah nafas cakrawala
yang terbangkan ayat-ayat pada udara semesta
lihatlah! dunia terpapar dalam cermin sejarah

~~~javanese~~~

Tan Kemba Ilining Tresna

natkala sepisanan sliramu rawuh, nimas
ing plataraning atiku iki
ngujiwating esemmu kuwawa nggonjingake jagading rasaku
kang gumulung geleng anglari sumempyoking banyu sengsem
kang dak antu ing gisiking tlaga wening
ing wewengkon gumrininging pasuryanmu

natkala sliramu anyandhi sengsem, nimas
ing wungkulaning atiku iki
nyuntak rasa anglarung wijiling tresna
ngrenda gumebyaring pangentha-entha
ngrukti jumbuhing atiku lan atimu
nyandhi pepethan kang karob segara madu

natkala atiku lan atimu amiwaha endahing tresna
lelumban ing lumahinh rembulan
sliramu oncat ngawiyat
bareng sumiliring angin sowan Hyang Widi

tinggalana aku esem ngujiwatmu, nimas
bisoa dak anggo ngeneng-enengi tangisku
tinggalana aku endahing kasulistyanmu, nimas
bakal dak larung ing sendhanging rasaku
dak aturi rawuh ing pangangenku, nimas
ing saben panrawang nglambrang ing awang-awang

paseksen tumapaking ubaya
tan kemba ilining tresna