Senin, 19 Juli 2010

aku

MARI KITA LUKIS CAKRAWALA


Bila harus kugambar mata Tahira dengan warna cahaya
aku pandang pelupukmu menarikan kuas jingga
menggapai bentuk-bentuk pesona
dan kau lukiskan di tengah padang musafirku
wajah cakrawala mengelilingi cakrawala
yang pernah singgah dalam mimpi perempuan buta
saling kita tawarkan sepanjang perjalanan kafilah

Bila kuinginkan cakrawala
dalam diam gua
batu-batu berbicara
lebih nyaring dari seruling pecinta


―――――

SAHABATKU BURUNG ABABIL

Sarangku sarang burung Ababil
dijalin huruf alif, dan laam dan miem
malamku habis dimamah panah rindu
shubuhku henyak dalam pesona langit
jauh, ketika aku terpana
sahabatku mengantar sukma ke puncak-puncak mega
membaca matahari yang terbelah
mengeja jarak yang dibentangkan masa
Ababil
bersamanya kubangun kemah-kemah
ditengah kecemasan oleh badai nafsu
kami bernaung dengan sarang-sarang
mengaji malam mengaji perjalanan
di tengah cahaya temaram


―――――

PEREMPUAN YANG IBU

Perempuan yang ibu takkan lahir
dari rahim bumi berlepotan lumpur dan sampah
yang pintu nuraninya diselubungi cadar kegelapan
dan pekat bersama harapan-harapan terkapar

Perempuan yang ibu lahir
dari buaian cakrawala
dari ukiran udara berwarna daun semesta
yang menyapa alam dengan bahasa mawar
atau kebeningan telaga
tak ada matahari luput dari jendela


―――――

KAFILAH DUNIA

seperti menatap huruf rapi pada lembaran buku
kabarmu nan jenaka bacakan dunia dalam kafilahku
kebeningan telaga memancar dari kedalaman risaumu
singkapkan warna seribu pelangi
gairah yang tertinggal dalam mabukku

O adikku
bebaskan kicaumu menyambut matahari kalbu
karena sebenar pesta adalah nafas cakrawala
yang terbangkan ayat-ayat pada udara semesta
lihatlah! dunia terpapar dalam cermin sejarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar