Minggu, 30 Mei 2010
sebuah persinggahan
Pemberhentian entah yang membuat aku selalu terjaga dalam cara aneh untuk tetap bertahan.
Gravitasi mengantarai untuk tetap ada, tetap berjarak.
Saling menarik, saling bertahan.
Sekian ratus perbincangan, masih membuat aku menerka isyarat paling sederhana dari suaramu yang selalu berkabut.
Dan aku mencoba mengurai setiap kata.
Barangkali aku salah jika kukatakan aku Mencintaimu.
Jangan langsung berpikir seperti itu.
Ini sebenarnya bukan perkara rumit, meskipun akan menjadi sebuah ketololan yang lebih besar.
Tapi aku masih membaca kebaikan amat sangat dari kejap pertemuan.
Pertemuan yang mengantarai ribuan fragmen perasaan dalam jalinan rapuh ketidakpastian.
Kamu pasti tidak meyakini semua ini.
Percayalah, aku tidak datang untuk mengacaukan hidupmu.
Aku tidak pernah mengawalinya dengan dusta yang busuk dan mengakhiri dengan pengkhianatan.
Tidak, sedikitpun tidak pernah terlintas dalam pikiranku.
Tapi sungguh aku ingin bersamamu.
Sekalipun hanya dalam pertemuan-pertemuan pendek dan dalam kebersamaan-kebersamaan yang singkat.
Yang dengan itu aku meyakini aku masih utuh di hadapanmu..
bangun dan mendakilah
Morfin itu kembali kau pilih untuk meredakan rasa sakitmu..
Begitu melewati aliran darahmu, kau akan merasakan ketenangan dan kegembiraan semu dan segera berlalu…efek yang ditimbulkan segera habis…yang tertinggal hanya rasa sakit yang semakin menjadi, dan untuk menghentikannya diperlukan dosis yang makin meningkat…
Itukah yang kau cari?
Mendengar suaranya bagai mendengar nyanyian sejuta bidadari..
Kata-kata yang keluar dari mulutnya melebihi kekuatan kata seorang Rommy Rafael yang mampu menghipnotismu sampai jauh ke alam sadarmu…
Remah-remah dari sisa waktunya kau abadikan bagai seseorang yang menanti ajal..
kau seakan rela menyerahkan seluruh impian mu untuk menggantikan posisi wanita yang menemani tidurnya setiap malam..

Terkadang kau lupa betapa berharganya dirimu..
betapa layaknya kau mendapatkan seseorang yang utuh..tak terbagi..yang mampu memberimu ruang di hidupnya dan menjadikanmu satu-satunya ratu dalam istananya…
Jagalah kesadaran untuk tetap melihat realita…
bukan melihat apa yang kau ingin kau lihat…
Jangan mencintai mimpi buruk hanya karena kau takut terbangun dari tidurmu…
Membuatnya tetap tinggal untuk mengukir kenangan bersamanya akan membunuhmu secara perlahan..
Kelekatan itu harus kau bayar dengan airmata, kecewa, kesedihan dan terlebih kebebasanmu..
Bangun dan mendakilah..karna puncak tertinggi yang menjanjikan kebebasan akan mengantarmu pada cinta sejati…
.......menjadi sendiri..........
Kapan kau pernah merasa benar-benar menikmati sesuatu? tanyaku pada diri. biasanya aku tak terlalu suka dengan tanya yang menuntut imaji. Tapi sesekali aku merindukan tanya itu. Lalu akupun mulai masuk lebih jauh ke dalam diri. ya, sampai sekarang aku masih menikmati betapa nikmatnya menangis. Menangis sendiri karena sesuatu yang memilukan. Menangis sendiri di atas bantal kamar tidur hingga hidungku sulit menghirup udara. Menangis ketika menyadari aku hanya melangkah sendiri. Aku baru menyadarinya, ternyata selama ini aku telah berjalan begitu jauh, tepat setelah ibuku mengajariku bagaimana menjadi sendiri dan ditinggalkan. bagaimana menikmati diri di tengah kerumitan. Bagaimana menikmati diri di tengah kebekuan. Bagaimana menikmati diri di tengah arogansi. Bagaimana menikmati diri di tengah kebuntuan. Bagaimana menikmati diri di tengah riak dan terjal. Bagaimana menikmati diri di tengah jebakan tanpa ampun. Bagaimana menikmati diri di tengah api yang siap membakar kapanpun. Bagaimana menikmati diri di tengah keterbatasan. Bagaimana menikmati diri di tengah segala hal yang tak pernah terpikirkan dan diinginkan. Ya, bagaimana menikmati segala yang tertangkap mata, terasa, dan terpikirkan.
sejak kecil, secara tidak langsung ibuku begitu intens dan sabar mengajariku. Mulanya aku diajari bagaimana menjadi sendiri. Sendiri ditinggalkan olehnya. Sendiri mencari jalan keluar dari masalah-masalahku. Dan sendiri menguatkan diri. kau tak perlu tanya kenapa aku ditinggalkan sendiri olehnya. Karena ada sesuatu yang lebih baik tidak terungkap. Jadi biarkanlah segalanya tersimpan dalam imaji, lalu esok aku akan melangkahkan kakiku tanpa beban. Dia, ibuku, lagi-lagi benar. Bahkan sampai sekarang pun aku tetap sendiri mengendalikan segalanya. Ya, selain warisan dari ibuku tentang pelajaran menjadi sendiri, pengalaman juga tak henti mengajarkanku akan rasa menjadi sendiri. Tentangku, imajiku mencoba menggambarkan sosokku. Katanya aku begitu kelam, tajam, dalam, dan sendiri. Begitu sindirnya tentangku. Dan aku tetap menikmati langkah kakiku.
~~aku berbincang dengan malam~~
Sepi..
Tak ada bayangan apapun di sini
Tak ada bayangannya, bayangan mereka, dan bayangan kita
Aku mencari bayangan namun tak menemukan
Malam semakin membuatku hanyut dalam simfoninya
Sayup-sayup terdengar dentingan nada minor yang dimainkan secara pianissimo
Aku mencoba membuka obrolan dengan malam
Malam.. Dengarkanlah melodi hatiku
Ia pun berbisik..
Merangkai kata melalui desikan daun dan desiran angin
Tahukah mengapa kau tak menemukan bayangan?
Takkan ada bayangan kalau tak ada sinar..
Tak kan ada yang lebih putih kalau tak ada yang lebih hitam
Tak kan ada gunanya keindahan bintang tanpa kemuramanku
Tak kan ada artinya semilir angin sejuk tanpa ada panas yang membutuhkannyaApa yang kau inginkan?
Biar ku tebak..
Mencintai?
Dicintai?
Jangan sungkan
Katakan saja padaku..
Aku mengerti
Ya, bahkan sangat mengerti
Denyut jantungmu mengatakan, kau kembali terjebak dalam fatamorgana itu
Desiran darahmu berkata
Kau terpikat dalam idealisme keindahanIzinkan aku berkata ini kawan
Indahnya sesuatu tak akan kau rasakan sepenuhnya bila kau tak berkorban untuk itu..Pengorbanan memang membawa warna kelam
Sekelam awan mendung yang membawa sejuta kerinduan
Namun
Lihatlah yang terbentuk setelah hujan badai
Pelangi akan muncul di sudut awan
Menebar keanggunan..
Menghapus kebimbangan..Percayalah
Ada keindahan yang disembunyikan setiap kemuraman
Akan ada lagi sinar dan pelangi di sudut gelap ruangan yang mulai berdebu itu
Tunggulah hujan itu
Tunggulah pelangi itu kawan
Seperti aku yang setia menanti purnama untuk menerangi kemuramanku
Lalu ia kembali seperti biasa
Membisu
Seakan memang tak bisa berbisik
Akupun terdiam..
Kurasa bincangku dengan malam sudah usai untuk hari ini
Sabtu, 29 Mei 2010
~dewi malam di reranting sepi~
===================================================

Dewi Malam
Di Timur Bumi, Sang Rembulan Terbang
Memancarkan Sinar Keemasan
Pekat Dunia Pun Hilang
Bersama Bias Bulan Dan Bintang
Tapi Mengapa?
Malamku Tak Seterang Malam Ini
Begitu Gelap Malam Di Hatiku
Dimanakah Dewi Malamku?
Wahai Dewi Malam
Tunjukkanlah Wajahmu
Biarkan Sang Rembulan Malu
Karena Sinarmu Mengalahkan Sinarnya
Wahai Dewi Malam
Berikan Sinarmu Untukku
Terangilah Malam Di Hatiku
Agar Gelapnya Malam Tak Memakan Hatiku
Oh…Dewi Malam
Hilangkalah Rindu Hati Ini
Walau Hanya Sebatas Mimpi
Temuilah Diriku
Tersenyumlah Kepadaku
Karena Senyummu Lah
Yang Memberikan Semangat
Tuk Menghadapi Hari Esok
^^ketika angin gelisah^^
kepada puannya daun daun luruh
tak habis percaknya
dalam bening embun bergemuruh
lalu galam gemulai pekat
percik percik nadi merambat
sampai diujung buai malaikat
aku mencari
irama irama hati
bersama gugur bunga kapas
di musim mati
putingnya melayang
dengan sepasang sayap mentari
dan senyum di lingkar bidadari
inilah angin
dengan tapap gundah
mata manja namun lelah
biasnya memerah
tersisa liang liang air mata serupa kawah
angin kini gelisah
perlahan dalam sandaran ia rebah
menunggu senja
di puncak kalimaya indah
Jakarta, 08 05 10
Jumat, 28 Mei 2010
dan.......
dan...
izinkanlah
kumasuki ruang rasamu
kekasih
...saat kau mulai lelah
saat gelap menyelinap
saat sakit menyisip
dan...
biarkanlah
kumengisi ruang batinmu
kekasih
memapah lelah
menyinar pekat
dan...
ini kakiku
untukmu berjalan
ini mataku
untukmu memandang
dan...
ini jiwa ragaku
untuk mengganti
rasa sakitmu
Jakarta, 09 Mei 2010
......tertikam najam.....
yang satu purnama lalu
aku semai
di dinding jantungmu
pucuknya tak lagi merah
membiru oleh beku heningmu
; pongahmu
ini dendam
serapah dari kebisuan
yang kubenamkan di kepalamu
pijarnya padam
oleh sunyi tuturmu
; tasbihmu
oh sembilu puja
menitih dendam bara
akan gemulai sungging betari
di lingkar durja
aku yang selaksa embun dosa
tertikam najam
ujararan serupa ayat ayat
tertancap
lekat
lalu
; sekarat
dan mati
..........................
Jakarta, 29 Mei 2010 [10:33]
biarkan sejenak aku
bersembunyi di balik angkuh bumi yang merindu.
aku tahu engkau mulai jenuh dengan keluh kesahku,
dengan semua rinduku,dengan semua cintaku, dengan semua puisi-puisiku.
dari caramu memandang dan berucap,
aku tahu ada sesak di dadamu karena semua cerita-ceritaku.
kini aku minta padamu,
raih kembali kebebasanmu,
yang kau anggap terengkuh karena ada aku.
bingkai lagi senyum centil dan tawa kelakarmu,
yang kau anggap musnah karena ada aku.
meski aku....
tak sesungguhnya merengkuh kebebasanmu,
tak sesungguhnya membungkam senyum dan tawamu.
aku hanya mencoba mendekapmu dengan cinta kasihku,
meski aku tahu, kau masih saja dingin bekukanku.
berjalanlah, seperti dulu saat tak ada aku.
saat aku tak membayangi langkah-langkahmu.
senyum dan tertawalah, pada celoteh-celoteh narsismu,
seperti dulu saat aku belum berpuisi untukmu.
terbangkanlah, semua angan dan citamu,
seperti dulu saat aku belum menatapmu.
meski aku.....
disini slalu menunggu,menatap seperti orang dungu,
lalu bercerita pada gembala-gembala lugu,
yang masih saja menganggap dusta semua cerita-ceritaku.
biarkan sejenak aku menjauh.
melangkah lambat dibelakangmu yang berlari berpacu.
biarkan sejenak aku menunggu.
merangkai lagi puisi-puisi lamaku,
menjadi doa pengantar tidurmu.
hanya harap kecil dari aku yang dungu,
akan ada kamu tersenyum dalam mimpiku,
meski sebenarnya itu hadir di setiap malamku.
tapi tetap saja.....aku ingin dia kamu.....
karena aku tahu, Tuhan tak akan menghukum aku,
hanya karena ada cintaku untukmu.......
Jakarta, 14 september 2009 11 : 00 pm
^yen sliramu takon^
kanggo sliramu kang lamat - lamat saya ngilang.
dak tamatake dhelo, ngetung isine ndonya.
dene aku kudu metani pitakon siji - siji,
saumpomo aku kudhu mbedah ukora kang kepatri.
kawedhar ono ing geguritan iki,
blesare kabar kabur kang kegawa angin timur.
antaraning ati kang ajur mumur,
lan pangarep - arep marang sliramu kang dhuwur.
sak umpama wit - witan wis kadhung rubuh,
katerak rosane angin wayah ratri.
nuli ngaburake angen - angen gegodongan kang ngawa katresnan.
sak ora - orane isih ana lintang sumebyar ing kartika.
panggonan kanggo sambat lan suwala.
yen sliramu takon ana rasa apa.......?
rungokno iba tangising ati ing dhada.
yen sliramu takon tekan sepiro.......?
dawane tanpa udakara mbok menowo.
marang sliramu...katresnan iki tak gowo.......
Jakarta, 23 Ocktober 2009 10 : 50 pm
~aku wanita~
bawalah aku sejenak, ke alammu, agar aku tahu apa yang ada di hatimu.
aku pelajari, tiap jengkal dari tubuhmu, berharap ada cinta ku temu.
aku nikmati benar tiap kata yang kau ucap padaku, seperti ada kasih di nafasmu,
tapi aku takut, aku yang keliru........
aku berjalan di sisimu, dari dulu waktu aku belum mengerti merindu.
aku coba menerka, kemana kau akan bawa kisahmu.
tapi tetap tak kutemu, karena tetap saja kau meragu.
kau panggil aku sayang.....tapi aku tak tau apa itu dari hatimu.
ku panggil kau sayang....berharap kau menangkap kesungguhanku.
lalu aku biarkan.....aku kan menunggu bahasa tubuhmu.
karena, tak satu tangkai bunga kau beri padaku, tak satu bait puisi kau syairkan padaku,
atau mungkin kau lupa, jika aku "wanita"....aku ingin itu semua.
atau memang aku hanya sebatas bayangan, yang nampak jika cahaya datang.
ah....kenapa aku ini.....
dulu aku ceria dengan hidupku....
kini aku biarkan semua berjalan....toh semua pasti ada ujungnya.
kini aku tinggal menikmati, ada senja indah di ujung timur.
bersama indah nyiur yang tak pernah lelah menghias pantai,
bersama kilau pelangi yang tak pernah pergi meski hujan menyirami.
~~suara tanpa suara~~
hening dan tanpa suara, hanya teriakan iblis di dadaku yang tak sampai padamu.
mungkin kau tuli, karena terlalu banyak rindu kujejalkan padamu.
lalu kau berjalan mendekat padaku, sejenak kau rapatkan kepalamu di dadaku.
tak akan kau dengar jantungku berbisik, karena detaknya berhenti disaat kau pergi.
kau lekatkan keningmu di keningku, berharap deru nafas kita beradu,
tapi sayang, nafasku tlah hilang saat dulu kau menghilang.
ada air mata aku lihat di ujung matamu, tapi sebenarnya aku yang sekarat,
menantimu di ranjang tua tempat dulu kita bercinta.
yang dulu penuh dengan suara-suara narsismu memanjakan aku.
kini tinggal hening tanpa suara, hanya teriakan iblis di dadaku yang tak sampai padamu.
kau kembali membawa cerita tentang malaikat penjaga fajar,
tapi aku tak mengerti ceritamu, karena fajar tak lagi datang padaku,
saat dulu kau pergi membawa semua rinduku.
dan hanya kau tinggalkan jejak penghianatan....
aku sadar....akulah intan anugerah Tuhan,
tanpamu aku tetap berkilau, meski kau tutupi aku dengan jelaga kelabu.
lihat aku disini......tangisku bukan untukmu,
marahku bukan untukmu, kecewaku bukan karenamu.
aku hanya tak pernah tau, terlalu banyak kasih ku berikan padamu....
tapi hanya luka kau tinggal di hatiku.....
Jakarta, 28 September 2009 05 : 00
~rembulanpun menunggumu~
samar aku baca harum suaramu.
menepi sejenak aku pada dinding kebisuan,
tak ada derap nafas memburu nafsu kurasa.
bimbang aku akan warna yang aku tangkap dari tawamu.
tak seperti dulu,
saat kau masih bersenandung, buka untuk aku, tapi untuk lambai nyiur memapah senja.
bilakah kau kembali bercerita padaku,
tentang dirimu yang jatuh cinta pada puisi-puisiku,
aku menunggu....
menunggu....jejak pelangi yang kau lukis dengan rindu,
adakah derap nafasmu kutemu, sedang aku lupa dengan lakumu.
adakah.....cerita itu akan kau perankan lagi,
aku merindu dengan semua ceritamu.
lalu lihatlah.....jauh disana tempat kau membuang senja,
yang dulu aku pesan ketika malam tak hentinya berdendang.
adakah.....waktu akan membaca lagi, cahaya lilin kecil yang aku jaga,
hingga saatnya nanti kau terjaga......
akan kau jumpa....rembulan merah yang bersolek indah,
lalu berlari memelukmu, mendekapmu dalam cinta.
oh....sudah terlalu lama rembulan itu menantimu,
kadang ia bercerita padaku, betapa cemburunya dia saat melihat kau tersenyum padaku,
sedang aku sendiri masih menenunggu...
kau tersenyum lagi....ya memang harus untuk aku....
Jakarta, 29 September 2009 09 : 00 pm......
u/ kita yang tak pernah mengerti apa itu kehidupan
tak seharusnya kita tertunduk menyesali cerita
rangkai lagi cerita baru yang indah bagi dunia.
~nada nada kembara~
ya, hanya dia
memang dia
lalu mengapa?
purnama jatuh
diatas lentera jingga
serupa jalanmu
tak kuraba
hanya hampar jambrut sayu
dan lazuardi
langit merah teduh menyapa
menyisir sunyi hanya sepi
seanyir butir pasir kutip doa
bersama halilintar marah
dan badai
kurindui hujan membawa nada-nadamu
gemuruh
luruh terbunuh
aku inginkan jantungmu
mengapa kau beri hatimu?
jangan!
tak perlu kau jawab
tuliskan saja
di muka-muka sakura
biar nanti aku temukan
saat musim gugur menyapa
"malam"
dia telah mati
tanpa nisan
tak tercatat dalam lembar angan
bersama sakura
semi
gugur
semi lagi
reinkarnasi
kembara
nadamu ke ujung lara
aku mencipta dentingnya
untai mengalun
lalu
kematian menari
mencari
tambatan abadi
rindu
kau sebut itu
hanya lara bagiku
lihatlah
bulan kini cahayanya bercabang
aku tantang
kelam datang
kau menghilang
hanya bayang-bayang
nada nada kembara
_________________________
Jogjakarta, 18 September 2005
last edit: 10 April 2010 [18:07]
~sebuah sajak yang aku tulis dalam puasaku~
drama meski mengandung komedi.
adalah kisah air mata.
jangan katakan padaku tentang cinta,
gejolak emosi semata atau limbung kepala,
adalah kisah yang sudah sepatutnya
kita tulis dalam prosa yang sederhana
adalah kebijaksanaan para fakir,
kearifan para pertapa dan suluk,
lahir dari nyeri di dada kiri,
ataukah aura kuning birahi ?!
semisal sekawanan pejalan,
telah kita tempuh sekian lembah,
dan aku tak ingin menjadi onak di sol sepatumu.
jika "matahariku" akhirnya harus pergi,
mungkin saatnya aku percayakan
pada kegelapan: petaku yang buta.
agar tak tampak
merah yang menitih disudut kerjap.
23 Oktober 2003 21 : 04 : 00


