ada jejak yang kau tinggal di tiap langkah lunglaimu.
samar aku baca harum suaramu.
menepi sejenak aku pada dinding kebisuan,
tak ada derap nafas memburu nafsu kurasa.
bimbang aku akan warna yang aku tangkap dari tawamu.
tak seperti dulu,
saat kau masih bersenandung, buka untuk aku, tapi untuk lambai nyiur memapah senja.
bilakah kau kembali bercerita padaku,
tentang dirimu yang jatuh cinta pada puisi-puisiku,
aku menunggu....
menunggu....jejak pelangi yang kau lukis dengan rindu,
adakah derap nafasmu kutemu, sedang aku lupa dengan lakumu.
adakah.....cerita itu akan kau perankan lagi,
aku merindu dengan semua ceritamu.
lalu lihatlah.....jauh disana tempat kau membuang senja,
yang dulu aku pesan ketika malam tak hentinya berdendang.
adakah.....waktu akan membaca lagi, cahaya lilin kecil yang aku jaga,
hingga saatnya nanti kau terjaga......
akan kau jumpa....rembulan merah yang bersolek indah,
lalu berlari memelukmu, mendekapmu dalam cinta.
oh....sudah terlalu lama rembulan itu menantimu,
kadang ia bercerita padaku, betapa cemburunya dia saat melihat kau tersenyum padaku,
sedang aku sendiri masih menenunggu...
kau tersenyum lagi....ya memang harus untuk aku....
Jakarta, 29 September 2009 09 : 00 pm......
u/ kita yang tak pernah mengerti apa itu kehidupan
tak seharusnya kita tertunduk menyesali cerita
rangkai lagi cerita baru yang indah bagi dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar