Jumat, 28 Mei 2010

biarkan sejenak aku

biarkan sejenak aku menghilang.
bersembunyi di balik angkuh bumi yang merindu.
aku tahu engkau mulai jenuh dengan keluh kesahku,
dengan semua rinduku,dengan semua cintaku, dengan semua puisi-puisiku.
dari caramu memandang dan berucap,
aku tahu ada sesak di dadamu karena semua cerita-ceritaku.

kini aku minta padamu,
raih kembali kebebasanmu,
yang kau anggap terengkuh karena ada aku.
bingkai lagi senyum centil dan tawa kelakarmu,
yang kau anggap musnah karena ada aku.
meski aku....
tak sesungguhnya merengkuh kebebasanmu,
tak sesungguhnya membungkam senyum dan tawamu.
aku hanya mencoba mendekapmu dengan cinta kasihku,
meski aku tahu, kau masih saja dingin bekukanku.

berjalanlah, seperti dulu saat tak ada aku.
saat aku tak membayangi langkah-langkahmu.
senyum dan tertawalah, pada celoteh-celoteh narsismu,
seperti dulu saat aku belum berpuisi untukmu.
terbangkanlah, semua angan dan citamu,
seperti dulu saat aku belum menatapmu.
meski aku.....
disini slalu menunggu,menatap seperti orang dungu,
lalu bercerita pada gembala-gembala lugu,
yang masih saja menganggap dusta semua cerita-ceritaku.

biarkan sejenak aku menjauh.
melangkah lambat dibelakangmu yang berlari berpacu.
biarkan sejenak aku menunggu.
merangkai lagi puisi-puisi lamaku,
menjadi doa pengantar tidurmu.
hanya harap kecil dari aku yang dungu,
akan ada kamu tersenyum dalam mimpiku,
meski sebenarnya itu hadir di setiap malamku.
tapi tetap saja.....aku ingin dia kamu.....
karena aku tahu, Tuhan tak akan menghukum aku,
hanya karena ada cintaku untukmu.......


Jakarta, 14 september 2009 11 : 00 pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar