Seharusnya Sambodo tak disini, tempat ini terasa asing buatnya. Dia kehilangan kesenyapan malam, sedang otaknya terus memacu logika untuk segera merdeka.
''Ra.. kapan ini akan tuntas..?''
''Entahlah Sam, aku masih buta dengan semua ini''
Rara masih berteka teki, baginya kemuakan akan keadaan yang stagnan, membuatnya merasa menjadi orang tertolol di dunia.
''Sungguh Sam, akupun bosan..
hatiku lebih rapuh dari hatimu''
''Rapuh kau bilang Ra?
dimana logikamu, bukankah ini yang kau mau?
aku memang mencintaimu, tapi aku bukan Karto, atau bekas bekas pacarmu dulu.
Aku suamimu, aku imammu''
Emosi Sambodo memuncak, dia merasa tak berada pada posisi yang semestinya.
Sedang Rara terdiam, sesekali menyeka air matanya.
''Sam, aku wanita, munafik dirimu.
Aku harus berdiri diantara orang yang melahirkanku dan kamu imamku,
pernahkah kau coba jadi aku?''
Sambodo terdiam, di hela nafasnya, detak jantungnya yang berpacu perlahan mencair.
lalu tubuh kekar itu memeluk istrinya dengan penuh cinta.
''aku mencintaimu sayang, tapi aku lelah menghadapi bundamu yang tak pernah anggap aku ada..
aku mencintaimu kemarin, hari ini, esok, dan selamanya..
Janjiku akan kurubah semua ini..
demi kita, demi bundamu..
beri aku waktu...''
Tidak ada komentar:
Posting Komentar